kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.086   6,00   0,03%
  • IDX 5.388   59,54   1,12%
  • KOMPAS100 697   10,48   1,53%
  • LQ45 545   8,81   1,64%
  • ISSI 183   1,92   1,06%
  • IDX30 305   4,36   1,45%
  • IDXHIDIV20 400   6,31   1,60%
  • IDX80 80   1,24   1,57%
  • IDXV30 111   1,31   1,20%
  • IDXQ30 101   1,89   1,91%

China: Aliansi baru AS mengintensifkan perlombaan senjata


Kamis, 16 September 2021 / 15:53 WIB
ILUSTRASI. Bendera merah raksasa di luar Museum Partai Komunis China di Beijing, China, Jumat (25/6/2021). REUTERS/Thomas Peter.


Sumber: Channel News Asia | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - BEIJING. China pada Kamis (16/9) mengecam aliansi baru AS dengan Australia dan Inggris, di mana Canberra akan memperoleh teknologi kapal selam nuklir, sebagai ancaman "sangat tidak bertanggungjawab" terhadap stabilitas regional.

Perjanjian itu "sangat merusak perdamaian dan stabilitas regional dan mengintensifkan perlombaan senjata," juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan dalam konferensi pers reguler, seperti dikutip Channel News Asia.

Sekutu Barat tidak menyebut China ketika mengungkapkan kesepakatan kapal selam nuklir tersebut pada Rabu (16/9), tetapi niat mereka jelas, dengan masing-masing mengacu pada masalah keamanan regional.

Pengumuman itu muncul ketika Australia telah meningkatkan pengeluaran pertahanan dengan waspada terhadap China yang meningkat pesat dan lebih tegas.

Baca Juga: AS dan Inggris siap membantu Australia untuk memperoleh kapal selam bertenaga nuklir

Aliansi tersebut dipandang sebagai upaya untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi dan militer China yang berkembang di kawasan Asia-Pasifik.

"Ekspor teknologi kapal selam nuklir yang sangat sensitif oleh Amerika Serikat dan Inggris ke Australia sekali lagi membuktikan, bahwa mereka menggunakan ekspor nuklir sebagai alat permainan geopolitik dan mengadopsi standar ganda, yang sangat tidak bertanggungjawab," kata Zhao.

Dia menambahkan, kesepakatan itu memberi negara-negara kawasan "alasan untuk mempertanyakan ketulusan Australia dalam mematuhi komitmen non-proliferasi nuklirnya".

China pun mendesak sekutu Barat untuk "meninggalkan pemikiran zero-sum Perang Dingin mereka yang sudah ketinggalan zaman" atau mengambil risiko "menembak kaki mereka sendiri".

Selanjutnya: Ancaman China makin kuat, Taiwan tambah anggaran pertahanan US$ 8,69 miliar




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×