kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

China Dibuat Geram Atas Rencana Biden untuk Menaikkan Tarif Impor Baja dan Aluminium


Kamis, 18 April 2024 / 19:16 WIB
ILUSTRASI. Pabrik baja di China. REUTERS/Aly Song


Sumber: Reuters | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Kementerian Perdagangan China mengatakan pihaknya dengan tegas menolak kenaikan tarif yang dipasang Amerika Serikat terhadap produk baja dan aluminium China.

Beijing pun berjanji akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi hak-haknya.

Presiden AS Joe Biden pada hari Rabu menyerukan adanya tarif yang lebih tinggi terhadap produk logam Tiongkok, yang membuat marah Beijing.

“Kami mendesak AS untuk mengatasi masalahnya sendiri, berhenti menaikkan tarif terhadap produk-produk Tiongkok, dan segera mencabut tarif tambahan terhadap Tiongkok,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Kepemilikan Asing di Pasar Obligasi China Kian Gemuk

Pemerintahan Biden mengancam akan menaikkan tarif dan juga menekan Meksiko untuk melarang China menjual produk logamnya ke Amerika secara tidak langsung dari sana.

Juru bicara tersebut mengatakan bahwa tindakan tersebut merupakan tipikal unilateralisme dan proteksionisme yang ditentang oleh China.

“AS telah mengabaikan tatanan dan aturan ekonomi dan perdagangan internasional, mempolitisasi masalah ekonomi dan perdagangan, menyalahgunakan prosedur peninjauan tarif, dan secara terbuka menuntut penyesuaian tarif secara sewenang-wenang terhadap produk-produk Tiongkok,” kata juru bicara tersebut.

“Tekanan AS terhadap negara-negara lain untuk membatasi produk Tiongkok akan merusak keamanan dan stabilitas rantai pasokan dan industri global,” lanjutnya.

Baca Juga: Morgan Stanley dan HSBC Pangkas Puluhan Pekerja di Asia Pasifik Minggu Ini

Ini adalah langkah terbaru AS untuk menempatkan hambatan perdagangan di hadapan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini. AS juga meluncurkan penyelidikan terhadap praktik perdagangan China di sektor pembuatan kapal, maritim, dan logistik.

AS Sebelumnya juga sudah memperketat aturan ekspor semikonduktor, sehingga mempersulit China untuk mengakses chip kecerdasan buatan dan alat pembuatan chip AS. 




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×