kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45904,37   14,57   1.64%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

China Diduga Bangun Pulau Buatan, Filipina Kirim Kapal ke Laut China Selatan


Senin, 13 Mei 2024 / 08:25 WIB
China Diduga Bangun Pulau Buatan, Filipina Kirim Kapal ke Laut China Selatan
ILUSTRASI. Pada Sabtu (11/5/2024), Filipina mengatakan mereka telah mengerahkan kapal ke wilayah sengketa di Laut China Selatan. Penjaga Pantai China/Handout melalui REUTERS


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - MANILA. Pada Sabtu (11/5/2024), Filipina mengatakan mereka telah mengerahkan kapal ke wilayah sengketa di Laut China Selatan. Filipina menuduh China telah membangun “pulau buatan” di wilayah tersebut. 

Ini merupakan perselisihan maritim teranyar antara China dengan Filipina di Laut China Selatan.

Melansir Reuters yang mengutip kantor Presiden Ferdinand Marcos Jr, penjaga pantai Filipina mengirim sebuah kapal untuk memantau aktivitas ilegal China, yakni menciptakan 'pulau buatan'.

Selain itu, Filipina juga bilang, dua kapal penjaga pantai lainnya sedang ditempatkan secara bergilir di wilayah tersebut.

Juru bicara Penjaga Pantai Filipina Komodor Jay Tarriela mengatakan di sebuah forum bahwa telah terjadi “reklamasi skala kecil” di Sabina Shoal, yang disebut Manila sebagai Escoda, dan bahwa Tiongkok adalah pihak yang paling mungkin melakukan reklamasi.

Kedutaan Besar China di Manila tidak segera menanggapi permintaan komentar atas pernyataan Filipina, yang dapat memperdalam keretakan bilateral.

Sebelumnya diberitakan, penasihat keamanan nasional Filipina pada hari Jumat menyerukan pengusiran diplomat Tiongkok atas dugaan kebocoran percakapan telepon dengan seorang laksamana Filipina mengenai sengketa maritim.

Baca Juga: Laut China Selatan Memanas, Filipina Serukan Pengusiran Diplomat China

Beijing dan Manila telah terlibat perselisihan sengit selama setahun terkait klaim mereka di Laut Cina Selatan, tempat perdagangan senilai US$ 3 triliun terjadi setiap tahunnya.

China mengklaim hampir seluruh jalur perairan penting tersebut, termasuk sebagian yang diklaim oleh Filipina, Brunei, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam. 

Pengadilan Arbitrase Permanen memutuskan pada tahun 2016 bahwa klaim Beijing tidak memiliki dasar berdasarkan hukum internasional.

Tiongkok telah melakukan reklamasi lahan secara besar-besaran di beberapa pulau di Laut China Selatan, membangun angkatan udara dan fasilitas militer lainnya, sehingga menimbulkan kekhawatiran di Washington dan kawasan sekitarnya.

Sebuah kapal Filipina telah berlabuh di Sabina Shoal untuk menangkap dan mendokumentasikan pembuangan karang yang hancur di atas gundukan pasir, kata Tarriela. Kapal tersebut juga melaporkan kehadiran puluhan kapal China yang "mengkhawatirkan", termasuk kapal penelitian dan angkatan laut.

Baca Juga: Tak Kerahkan Meriam Air, Filipina Tak Mau Tingkatkan Ketegangan di Laut China Selatan

Tarriela mengatakan kehadiran kapal Tiongkok di atol yang berjarak 124 mil (200 km) dari provinsi Palawan, Filipina, bertepatan dengan ditemukannya tumpukan karang mati dan hancur oleh penjaga pantai.

Penjaga pantai akan membawa ilmuwan kelautan ke daerah tersebut untuk menentukan apakah tumpukan karang tersebut merupakan kejadian alami atau disebabkan oleh campur tangan manusia, katanya.




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×