China menciptakan tentara super, tahan sakit, dan tak kenal rasa takut

Sabtu, 13 Februari 2021 | 08:35 WIB Sumber: Kompas.com
China menciptakan tentara super, tahan sakit, dan tak kenal rasa takut

ILUSTRASI. China dikabarkan sedang mengembangkan tentara generasi mendatang dengan kemampuan ala tokoh-tokoh pahlawan super. REUTERS/Aly Song


Di era modern, unggul tak selalu terkait dengan persenjataan, tapi juga mengubah individu agar memiliki fitur tentara unggulan atau tentara super. Pada 2017, Presiden Rusia Vladimir Putin, memperingatkan bahwa "manusia mungkin tidak lama lagi akan membuat sesuatu yang jauh lebih buruk dari bom nuklir". 

Putin mengatakan manusia "bisa membangun tentara yang bertempur tanpa rasa takut, tanpa penyesalan dan tanpa merasakan sakit". 

Kembali ke China, mantan direktur badan intelijen nasional (DNI), John Ratcliffe, secara terang-terangan menuduh China sedang "membangun tentara dengan kemampuan di atas manusia normal". 

Baca Juga: Joe Biden sebut China sebagai pesaing paling serius bagi Amerika

"China melakukan percobaan terhadap anggota Tentara Pembebasan Rakyat dengan harapan mengembangkan tentara dengan kemampuan biologis yang jauh lebih andal. Dalam ambisi ini, Beijing tak mempedulikan hal-hal yang bersifat etis," kata Ratcliffe dalam tulisan di The Wall Street Journal. 

Pemerintah di Beijing menggambarkan tulisan Ratcliffe sebagai "tak lebih dari kebohongan semata". 

Antara ambisi dan realitas 

Tentu banyak yang berambisi punya tentara super, tentara yang tahan sakit, tahan suhu dingin atau tetap bugar meski tak tidur. Tapi, seperti terlihat dalam proyek Iron Man yang dikembangkan AS, kendala praktis sering kali membuat program militer tak bisa diwujudkan sesuai harapan. 

Pada 2019, terbit tulisan akademis soal militer China "yang aktif mengeksplorasi teknik modifikasi genetika untuk membangun tentara super". 

Baca Juga: Joe Biden: Program vaksinasi virus corona Donald Trump buruk

Disebutkan pula China "mengeksplorasi kemungkinan mengembangkan seragam canggih dan kolaborasi antara manusia dan mesin". 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru