CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.600.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

China Menghabiskan Senilai US$ 240 Miliar Untuk Menalangi Negara-Negara Berkembang


Selasa, 28 Maret 2023 / 10:50 WIB
ILUSTRASI. China menghabiskan senilai US$ 240 miliar untuk menalangi 22 negara berkembang dari tahun 2008 hingga 2021.


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JOHANNESBURG. China menghabiskan senilai US$ 240 miliar untuk menalangi 22 negara berkembang dari tahun 2008 hingga 2021. Dana tersebut dipinjam oleh negara-negara berkembang untuk membangun infrastruktur Belt & Road.

Reuters pada Selasa (28/3) melaporkan, hampir 80% dari pinjaman tersebut diberikan antara tahun 2016 dan 2021, terutama kepada negara-negara berpenghasilan menengah, termasuk Argentina, Mongolia, dan Pakistan.

China telah meminjamkan ratusan miliar dolar untuk membangun infrastruktur di negara-negara berkembang. Tetapi pinjaman tersebut telah menurun sejak 2016 karena banyak proyek gagal membayar dividen keuangan yang diharapkan.

Pinjaman dari China ke negara-negara yang mengalami kesulitan utang melonjak kurang dari 5% portofolio pinjaman luar negerinya di tahun 2010 menjadi 60% di tahun 2022.

Baca Juga: Inilah Pesan Tersirat yang Ingin Disampaikan Elon Musk ke Warren Buffett

Tercatat, Argentina menerima paling banyak utang dari China sebanyak US$ 111,8 miliar, diikuti Pakistan dengan US$ 48,5 miliar, dan Mesir dengan US$ 15,6 miliar. Adapun, sembilan negara berkembang lainnya menerima utang kurang dari US$ 1 miliar.

People's Bank of China (PBOC) menyumbang US$ 170 miliar dari pembiayaan utang ini, termasuk ke Suriname, Sri Lanka, dan Mesir.

Pinjaman atau dukungan neraca pembayaran oleh bank-bank pelat merah milik pemerintah China mencapai US$ 70 miliar. 

Baca Juga: Sekutu Vladimir Putin: Washington Meremehkan Kekuatan Nuklir Moskow

Pinjaman dana talangan ini terutama terkonsentrasi di negara-negara berpenghasilan menengah yang merupakan empat perlima dari pinjaman. Sementara negara-negara berpenghasilan rendah ditawari tenggang waktu dan perpanjangan jatuh tempo.

China sedang menegosiasikan restrukturisasi utang dengan negara-negara termasuk Zambia, Ghana, dan Sri Lanka. China juga telah meminta Bank Dunia dan IMF untuk menawarkan keringanan utang.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×