Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengundurkan diri pada Kamis (29/10/2026), mengakhiri spekulasi selama berbulan-bulan mengenai masa depannya. Keputusan ini diambil ketika Eropa memasuki periode meningkatnya gejolakekonomi dan politik elektoral yang memecah belah, terutama di negara asalnya, Prancis.
Lagarde akan meninggalkan jabatannya pada 7 Februari. Keputusan tersebut memberikan waktu bagi para pemimpin Uni Eropa saat ini untuk memilih penggantinya sebelum pemilihan presiden Prancis, yang menurut jajak pendapat menunjukkan kandidat sayap kanan jauh Marine Le Pen diperkirakan unggul.
Langkah ini diambil ketika ECB menghadapi risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak yang dipicu perang Iran. Padasaat yang sama, kenaikan tajam imbal hasil obligasi, terutama di Prancis, mengancam memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Flavio Bolsonaro Klaim Pemimpin Sah Brasil, Tuduh Lula Lakukan Kudeta Pemilu
“Saya meninggalkan lembaga ini dengan perasaan bahwa pekerjaan telah dilakukan dengan baik dan ECB siap menghadapi masa depan,” kata Lagarde, 70 tahun, dalam sebuah video singkat yang dibagikan di media sosial.
Seorang sumber yang mengetahui langsung persoalan tersebut mengatakan bahwa Lagarde, mantan menteri keuangan Prancis dan mantan kepala Dana Moneter Internasional (IMF), mengundurkan diri agar dapat ikut menyampaikan pandangannya mengenai persoalan politik di Prancis dan dunia. Sebagai presiden ECB, ia diharapkan tetap netral untuk menjaga independensi lembaga tersebut.
Markus Ferber, anggota Parlemen Eropa dari Partai Rakyat Eropa yang berhaluan kanan tengah asal Jerman, mengatakan pengunduran diri dini Lagarde mengirimkan “sinyal yang salah” di tengah inflasi tinggi, pasar obligasi yang gelisah, dan pemilihan umum yang semakin dekat.
“Jika muncul kesan bahwa waktu pengunduran diri seperti itu disesuaikan dengan pemilihan umum nasional, hal tersebut merusak kepercayaan terhadap lembaga yang harus berada di atas segala perhitungan politik dalam negeri,” kata Ferber,yang menjadi anggota komite parlemen yang akan mengonfirmasi pengganti Lagarde.
Sebaliknya, Marcel Fratzscher, presiden lembaga pemikir ekonomi Jerman DIW, mengatakan Lagarde menunjukkan “rasa tanggung jawab yang kuat terhadap Eropa”.
Baca Juga: Presiden Jerman Peringatkan China soal Ketergantungan Ekonomi Negara Lain
“Dengan meninggalkan jabatan lebih awal, Christine Lagarde memberikan kesempatan kepada pemerintah dan lembaga-lembaga Eropa untuk menunjuk pengganti yang akan menjaga nilai-nilai Eropa dan melindungi independensi ECB,”katanya kepada Reuters.
Lagarde belum membahas persoalan tersebut secara langsung. Ia pernah mengatakan tidak akan menjadi kandidat dalam pemilihan presiden Prancis, tetapi akan memperjuangkan nilai-nilai pro-Eropa di negara asalnya “dalam kapasitas apa pun” yang menurutnya paling efektif.
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengatakan proses pencarian pengganti Lagarde akan segera dimulai.
Penunjukan tersebut kemungkinan menjadi bagian dari paket pergantian sejumlah jabatan penting di ECB, termasuk posisi anggota dewan eksekutif Isabel Schnabel, yang akan meninggalkan jabatannya pada awal Januari, serta kepala ekonom Philip Lane, yang dijadwalkan pergi pada Mei.
Mantan gubernur bank sentral Belanda dan Spanyol, Klaas Knot dan Pablo Hernandez de Cos, secara luas dipandang sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan Lagarde.
“Kedua nama yang disebut-sebut sebagai calon pengganti merupakan bankir sentral yang sangat kompeten dan memiliki reputasi kuat. Karena itu, bagi pasar, pergantian ini tidak akan terlalu berpengaruh,” kata Piet Haines Christiansen,ekonom di Danske Bank.
Pasar keuangan hanya menunjukkan sedikit reaksi terhadap pengumuman tersebut. Sejumlah analis mencatat bahwa ECBkini telah membangun reputasi kelembagaan yang tetap bertahan terlepas dari siapa yang memimpinnya.
Baca Juga: Saham Microsoft dan Oracle Melonjak, Alphabet Terpuruk akibat Belanja AI
“ECB kini merupakan lembaga yang cukup mapan, dan pasar sudah memahami cara lembaga ini beroperasi,” kata Simon Dangoor, kepala investasi makro pendapatan tetap di Goldman Sachs.
“Pandangan kami adalah bahwa perilaku kelembagaan kemungkinan akan bertahan setelah Lagarde pergi dan akan tetap relatif serupa, siapa pun yang mengambil alih.”
Masa jabatan Lagarde sebenarnya dijadwalkan berakhir pada akhir Oktober 2027. Namun, spekulasi mengenai kemungkinan pengunduran dirinya lebih awal telah meningkat selama beberapa bulan terakhir. Forum Ekonomi Dunia(WEF) dipandang sebagai salah satu kemungkinan tempat ia akan berkiprah berikutnya. WEF menolak memberikan komentar.
Pengunduran diri Lagarde terjadi ketika ECB sedang menjalankan siklus kenaikan suku bunga yang bertujuan mencegah guncangan harga minyak terkait perang Iran merambat ke harga barang dan upah lainnya.
Namun, ECB juga harus menghadapi lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah, terutama di Prancis yang memiliki beban utang besar. Kondisi ini telah meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan perusahaan. Lagarde sebelumnya mengatakan bahwa situasi tersebut akan menekan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
Di tengah inflasi yang terus bertahan akibat lonjakan baru biaya energi serta memburuknya kondisi pembiayaan, ECB secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga deposito di level 2,5% pada Kamis. Namun, bank sentral tersebut diperkirakan tetap memberi sinyal bahwa kenaikan berikutnya, yang berpotensi terjadi pada Desember, masih mungkin dilakukan.
Baca Juga: Saham Microsoft dan Oracle Melonjak, Alphabet Terpuruk akibat Belanja AI
“Ambang untuk melakukan kenaikan suku bunga lagi pada Desember kemungkinan cukup rendah, mengingat adanya kemungkinan revisi naik terhadap proyeksi inflasi ECB akibat harga energi yang lebih tinggi,” kata Oliver Rakau dari Oxford Economics.
ECB dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunganya pada Kamis pukul 13.15 GMT, kemudian dilanjutkan dengan konferensi pers rutin Lagarde pada pukul 13.45 GMT.
Pasar uang saat ini memperhitungkan kemungkinan tiga kenaikan suku bunga tambahan oleh ECB hingga akhir tahun depan. Jika terjadi, suku bunga deposito akan mencapai 3,25%, tingkat yang secara luas dipandang dapat membatasi pertumbuhan ekonomi.














