Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga pada Kamis (10/9/2026) untuk meredam risiko lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi yang dipicu perang Iran.
Serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak akhir Agustus kembali mengguncang pasar energi setelah sekitar sebulan relatif tenang. Kedua pihak saling menyerang aset militer, pelayaran hingga fasilitas energi.
Baca Juga: Harga Emas Spot Tertahan di US$ 4.396 Kamis (10/9), Investor Tunggu Data Inflasi AS
Kondisi tersebut mendorong harga minyak dan gas kembali melonjak sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi di kawasan euro yang sangat bergantung pada impor energi.
Melansir Reuters, ekonom memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 2,50% dari 2,25%.
Bank sentral juga diperkirakan memberi sinyal bahwa kenaikan lanjutan masih terbuka jika prospek inflasi tidak membaik.
"Kenaikan suku bunga September hampir pasti terjadi," ujar Alessia Berardi, Head of Global Macroeconomics Amundi Investment Institute.
Menurut Berardi, inflasi masih tinggi dan diperkirakan bertahan dalam beberapa bulan ke depan sebelum mulai mereda pada paruh kedua tahun depan.
Baca Juga: AS Kecolongan! Drone Bawah Laut Canggih Jatuh ke Tangan Iran
Ekonomi Eropa masih cukup tangguh
Di tengah tekanan harga energi, kondisi ekonomi zona euro justru dinilai masih lebih kuat dari perkiraan.
Presiden ECB Christine Lagarde dan para pejabat bank sentral diperkirakan mempertimbangkan data pertumbuhan terbaru yang menunjukkan ekonomi 21 negara zona euro masih mampu bertahan menghadapi kenaikan biaya bahan bakar, persaingan dari China dan dampak kekeringan.
Penyaluran kredit perbankan bahkan meningkat pada Juli. Kondisi ini menunjukkan kenaikan suku bunga sebelumnya belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi.
Martin Wolburg, Senior Economist Generali Investments memperkirakan, Lagarde akan mempertahankan sikap hawkish dengan pendekatan wait and see sembari membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Pasar keuangan saat ini memperhitungkan kemungkinan dua hingga tiga kali kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir 2027.
Kondisi pembiayaan di Eropa juga telah mengetat. Imbal hasil obligasi jangka panjang berada di level tertinggi sejak sebelum krisis keuangan global, mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi dan meningkatnya utang pemerintah.
Tekanan terhadap imbal hasil obligasi juga datang dari perusahaan teknologi besar yang agresif menerbitkan obligasi untuk membiayai investasi kecerdasan buatan (AI), serta gejolak politik di Jerman.
Baca Juga: Penasihat Trump Bongkar Fakta Mengejutkan: Perang Iran Bisa Berlangsung hingga 2029
Proyeksi inflasi berpotensi berubah
ECB juga diperkirakan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini dan kemungkinan 2027, seiring ketahanan ekonomi kawasan tersebut.
Namun, bank sentral kemungkinan memperpanjang perkiraan waktu inflasi untuk kembali ke target 2%. Inflasi saat ini telah berada di atas 3%, sementara sebelumnya ECB memperkirakan target tersebut dapat tercapai pada musim panas tahun depan.
Masalahnya, proyeksi baru ECB kemungkinan belum sepenuhnya memasukkan lonjakan harga energi terbaru. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus US$ 100 per barel pada Rabu (9/9).
Lorenzo Codogno, pendiri LC Macro Advisors mengatakan, kenaikan biaya bahan bakar, ketegangan perdagangan dan gangguan akibat cuaca menciptakan kondisi yang dapat kembali mendorong inflasi.
Kondisi tersebut bahkan berpotensi memaksa ECB menaikkan suku bunga lagi pada Oktober dan Desember.
"Kita mungkin sekarang berada di titik balik inflasi, dan upah juga pada akhirnya akan memberikan tekanan ke atas," kata Codogno.
Baca Juga: Robot China Kalahkan Rekor Usain Bolt, Kini Siap Rebut Pekerjaan Manusia?
Tekanan inflasi mulai terlihat
Sejauh ini, sejumlah indikator utama yang menjadi perhatian ECB masih relatif terkendali.
Inflasi inti yang tidak memasukkan harga energi dan makanan turun menjadi 2,4% pada bulan lalu.
Survei terbaru juga menunjukkan ekspektasi konsumen terhadap kenaikan harga mulai menurun, sementara pertumbuhan upah melambat.
Namun, analis Barclays memperingatkan tekanan inflasi mulai terbentuk. Harga barang inti mulai mengalami penguatan, sementara harga produsen meningkat jauh lebih cepat dibandingkan harga konsumen.
Menurut Barclays, kondisi tersebut membuat inflasi barang inti berada pada posisi yang lebih kuat dan dapat menjadi basis bagi dampak inflasi akibat konflik Timur Tengah dalam beberapa kuartal mendatang.
Carsten Brzeski, Global Head of Macro ING mengatakan perusahaan, setidaknya di Jerman, sejauh ini masih menyerap kenaikan biaya produksi dan belum sepenuhnya membebankannya kepada konsumen.
Kondisi ini berbeda dengan 2022 ketika lonjakan harga energi setelah invasi Rusia ke Ukraina memicu gelombang inflasi yang lebih luas.
Baca Juga: Apple Tersalip Samsung Setelah 16 Tahun, Skor Brand Intimacy Anjlok
Masa depan Lagarde ikut disorot
Selain keputusan suku bunga, Lagarde kemungkinan menghadapi pertanyaan mengenai masa depannya sebagai Presiden ECB.
Masa jabatan Lagarde dijadwalkan berakhir pada 31 Oktober 2027. Namanya beberapa kali dikaitkan dengan posisi pimpinan World Economic Forum.
Lagarde juga sempat menyampaikan keinginannya untuk memperjuangkan nilai-nilai Eropa dalam kapasitas tertentu selama kampanye pemilihan presiden Prancis tahun depan.
Ketika ditanya apakah hal tersebut berarti dirinya akan meninggalkan ECB lebih awal, Lagarde sebelumnya mengatakan bahwa dirinya tidak akan meninggalkan bank sentral tersebut sebelum 2027.
Spekulasi mengenai perubahan susunan pimpinan ECB juga mencuat setelah laporan bahwa anggota Dewan Eksekutif ECB Isabel Schnabel disebut tengah melakukan pembicaraan untuk bergabung dengan Dana Moneter Internasional (IMF).
Baca Juga: Perang Iran-AS Makin Brutal, Harga Minyak Tembus US$ 100














