kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Demi jadi negara sejahtera, pertumbuhan ekonomi China harus 6%


Rabu, 27 November 2019 / 19:28 WIB
Demi jadi negara sejahtera, pertumbuhan ekonomi China harus 6%
ILUSTRASI. Orang berjalan di depan bendera raksasa China di pusat bisnis Chongqing, China, 13 September 2019.


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - BEIJING. China harus mematok target pertumbuhan ekonomi sekitar 6% pada tahun depan dan menambah stimulus. Ini demi mewujudkan Tiongkok jadi negara "sejahtera".

Ekonomi China telah mendingin mendekati level terendah hampir 30 tahun terakhir, hanya tumbuh 6% pada kuartal tiga tahun ini, dan bisa tergelincir lebih dalam di kuartal keempat.

Meskipun, Yao Jingyuan, Penasihat Dewan Negara, kabinet China, mengatakan, untuk setahun penuh, pertumbuhan masih berada di jalur untuk memenuhi target pemerintah di kisaran 6%-6,5%.

Baca Juga: Kinerja pelaku industri China tertekan perang dagang

Tahun depan, akan menjadi sangat penting bagi Partai Komunis yang berkuasa untuk memenuhi tujuan lamanya: menggandakan produk domestik bruto dan pendapatan per kapita, untuk mengubah China menjadi negara "sejahtera".

"Pertumbuhan seharusnya sekitar 6%. Kita tidak bisa mencapai tujuan itu jika pertumbuhan lebih rendah," kata Yao kepada wartawan di Beijing, Rabu (27/11).

Penasihat Dewan Negara lainnya yang menolak disebutkan namanya juga menganjurkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% untuk tahun depan.

Baca Juga: Trump: Kesepakatan dengan China semakin dekat, tapi AS juga mengawasi isu Hong Kong

Tapi, Yao bilang, Pemerintah China perlu meningkatkan stimulus untuk mencegah pertumbuhan tergelincir di bawah level itu. Sebab, itu bisa memperburuk lapangan kerja, pendapatan pemerintah, juga laba perusahaan.

Pusat Informasi Negara, sebuah lembaga think tank terkemuka Pemerintah China, juga mengusulkan target sekitar 6% untuk pertumbuhan ekonomi 2020.

Rekomendasi itu datang ketika para pemimpin dan pembuat kebijakan China mempersiapkan Konferensi Kerja Ekonomi Pusat, sebuah pertemuan tahunan tertutup yang akan berlangsung bulan depan untuk membahas target ekonomi dan prioritas kebijakan.

Baca Juga: Gedung Putih: AS dan China semakin dekat dengan kesepakatan dagang, tapi...

Angka pengangguran yang meningkat bisa menimbulkan tantangan bagi para pemimpin China yang terobsesi dengan stabilitas. Soalnya, mereka mesti bergulat dengan perlambatan di sektor jasa yang dulu booming.

Bank sentral China pada Senin (25/11) memperingatkan peningkatan risiko penurunan ekonomi. Jajak pendapat Reuters memperkirakan, pertumbuhan China akan turun menjadi 6,2% tahun ini dan jadi 5,9% pada tahun depan.

Beijing telah mengandalkan campuran langkah-langkah fiskal dan moneter untuk mengatasi penurunan saat ini. Mulai memangkas tarif pajak hingga menerbitkan obligasi pemerintah daerah untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur.

Baca Juga: Kabarnya, China bangun pusat komando krisis Hong Kong di dekat perbatasan

Pemerintah China juga mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit, dengan mengurangi persyaratan cadangan mereka.

Selain itu, China mengajukan 1 triliun yuan dari kuota obligasi khusus pemerintah daerah tahun depan ke tahun ini sebagai berupaya mencegah perlambatan ekonomi yang lebih tajam.




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×