Dilanda panic buying karena isu karantina, warga Hong Kong borong beras dan tisu

Jumat, 07 Februari 2020 | 05:52 WIB Sumber: South China Morning Post
Dilanda panic buying karena isu karantina, warga Hong Kong borong beras dan tisu

ILUSTRASI. Antrean pembelian masker di Hong Kong. REUTERS/Tyrone Siu


Seorang penduduk Perkebunan Shek Mun di distrik itu, dia menderita demam dan batuk pada 28 Januari. Dia mengunjungi dokter swasta pada 29 Januari dan 1 Februari, dan dikirim ke rumah sakit pada 5 Februari, ketika ia dirujuk ke Rumah Sakit Pamela Youde Nethersole Eastern di Chai Wan. Dia dilaporkan dalam kondisi stabil saat ini.

Dalam briefing harian, Chuang mengatakan setidaknya ada enam kelompok keluarga pasien yang terinfeksi. "Itu berarti bahwa penularan virus dalam keluarga sangat tinggi," tambahnya.

Baca Juga: Bisnis terpuruk, Cathay minta 27.000 karyawan cuti sukarela tanpa upah

Chuang mengatakan enam dari kasus yang dikonfirmasi kemungkinan terinfeksi secara lokal. “Rasionya semakin tinggi. Kami khawatir penyebaran lokal akan semakin serius, ”katanya.

Sebelumnya pada hari itu, Profesor Yuen dari Universitas Hong Kong mencatat bahwa hampir sepertiga dari kasus tidak memiliki riwayat perjalanan yang berhubungan dengan virus corona. "Rantai transmisi lokal telah dimulai, dan jika kita tidak melakukan apa-apa untuk mengendalikannya, Hong Kong akan menjadi seperti kota daratan yang telah menderita banyak kasus," ia memperingatkan.

Baca Juga: Di Jepang, 10 penumpang kapal pesiar yang dikarantina positif terkena virus corona

Yuen menambahkan bahwa semua langkah harus diambil untuk memutus rantai penyebaran lokal. Dia juga mencatat bahwa penularan virus terbukti sangat efisien, mirip dengan flu musiman.

"Banyak orang menyalahkan saya sebelumnya karena melebih-lebihkan situasi sebelumnya, tetapi apa yang saya katakan didasarkan pada fakta ilmiah," katanya.

“Begitu kita memiliki wabah yang lebih besar, bahkan jika Anda tidak menutup perbatasan, kota akan terisolasi. Akan terlambat kalau begitu,” tambah Yuen.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru