kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.759.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 18.077   77,00   0,43%
  • IDX 5.840   -101,28   -1,70%
  • KOMPAS100 772   -13,86   -1,76%
  • LQ45 581   -8,07   -1,37%
  • ISSI 203   -2,64   -1,28%
  • IDX30 329   -5,24   -1,57%
  • IDXHIDIV20 407   -5,51   -1,34%
  • IDX80 87   -1,44   -1,63%
  • IDXV30 111   -2,14   -1,88%
  • IDXQ30 106   -1,74   -1,61%

Ditangguhkan AS dari program GSP, Thailand akan negosiasi soal bea impor


Senin, 28 Oktober 2019 / 17:06 WIB
ILUSTRASI. Thailand ajukan banding ke Amerika Serikat tentang bea impor setelah dicoret dari program Generalized System of Preferences (GSP).foto/KONTAN/Asnil Bambani


Sumber: Reuters | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Thailand akan melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat mengenai penangguhan preferensi bebas bea impor barang-barang dari Thailand.

"Kami akan bernegosiasi di semua forum dan menggunakan semua saluran untuk berkomunikasi dan menciptakan pemahaman tentang masalah dengan AS," kata Keerati Rushchano, pejabat Direktur Jenderal Departemen Perdagangan Luar Negeri Thailand seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Produsen Louis Vuitton akui sedang menjajaki akuisisi toko perhiasan Tiffany & Co

Dia juga mengatakan pemerintah akan mendukung eksportir Thailand dalam upaya diversifikasi pasar mereka.

"Akan ada perjalanan bisnis untuk mengeksplorasi pasar baru di Timur Tengah, Eropa Timur, Afrika dan kota-kota sekunder di Cina dan India di mana pasar tidak begitu akrab dengan produk Thailand," kata Keerati.

Sebelumnya pada hari Jumat, AS menangguhkan perlakuan bebas bea impor Thailand senilai US$ 1,3 miliar, termasuk produk makanan laut, di bawah program Generalized System of Preferences (GSP).

Pemerintah AS beralasan bahwa Thailand tidak memberi para pekerja di negara tersebut hak-hak yang diakui secara internasional.

Hilangnya perlakuan bebas bea akan menyebabkan produk Thailand dikenakan bea antara 1,5 miliar baht hingga 1,8 miliar baht atau sekitar US$ 59,6 juta per tahun.

Baca Juga: IMF: Agar anggaran Iran seimbang, harga minyak harus ada di level US$ 195 per barel

CP Foods Pcl, sebuah perusahaan makanan raksasa yang berbasis di Bangkok, mengatakan hanya salah satu produknya yang diekspor yakni mie pangsit udang, akan terpengaruh oleh langkah AS tersebut.

Sementara Thai Union Group Pcl, produsen tuna kalengan terbesar di dunia, mengatakan keputusan tersebut tidak akan berdampak material pada bisnisnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×