Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Di tengah gejolak pasar global, dolar AS menjadi salah satu aset yang diuntungkan. Sebaliknya, pasar saham, obligasi, dan bahkan logam mulia sempat mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Lonjakan harga energi akibat perang Timur Tengah juga memicu kekhawatiran kembalinya tekanan inflasi. Hal ini tercermin dari perubahan ekspektasi suku bunga di pasar keuangan global.
Data overnight index swaps (OIS) menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed baru akan terjadi pada September atau Oktober, menurut estimasi LSEG.
Ekspektasi pelonggaran kebijakan dari Bank of England juga mulai berkurang. Sementara itu, pasar uang bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) secepatnya tahun ini.
“Kekhawatiran terhadap inflasi seperti yang terjadi saat perang Rusia-Ukraina dan setelah pandemi masih sangat membekas di pasar,” kata Kepala Riset Pasar National Australia Bank, Skye Masters.
Baca Juga: Imbas Konflik Iran: Harga Bensin AS Melonjak, Donald Trump Panik?
Di tengah fokus pasar terhadap konflik geopolitik, investor cenderung mengabaikan sejumlah data ekonomi AS yang dirilis pada Kamis (5/3).
Data menunjukkan jumlah klaim baru tunjangan pengangguran di AS tidak berubah pada pekan lalu, sementara pemutusan hubungan kerja turun tajam pada Februari. Hal ini menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih stabil.
Kini perhatian pasar tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat (6/3). Survei Reuters terhadap ekonom memperkirakan penambahan 59.000 pekerjaan pada Februari, setelah sebelumnya meningkat 130.000 pada Januari.
Tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil di level 4,3%.
Sementara itu, Kepala Strategi Valuta Asing TD Securities Jayati Bharadwaj mengatakan, masih ada ruang bagi penyesuaian posisi beli dolar dalam jangka pendek di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off).
Baca Juga: Harga Bensin AS Naik Imbas Perang Iran, Begini Komentar Trump
Namun, ia menilai konflik Iran kemungkinan tetap terkendali, terutama karena AS sedang memasuki tahun pemilu paruh waktu.
“Penguatan dolar kemungkinan hanya akan berlanjut selama premi risiko pada harga minyak tetap tinggi, hingga terjadi perubahan rezim di Iran dengan dukungan AS,” tulis Bharadwaj.
Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia menguat 0,16% menjadi US$ 0,7017. Dolar Selandia Baru naik 0,15% menjadi US$ 0,5903.
Sementara di pasar kripto, bitcoin turun 0,26% ke level US$ 70.956,52 dan ether melemah 0,27% menjadi US$ 2.074,84.













