kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.024.000   -25.000   -0,82%
  • USD/IDR 16.955   12,00   0,07%
  • IDX 7.509   -201,44   -2,61%
  • KOMPAS100 1.046   -31,01   -2,88%
  • LQ45 769   -18,71   -2,38%
  • ISSI 264   -8,34   -3,06%
  • IDX30 409   -9,83   -2,34%
  • IDXHIDIV20 505   -10,04   -1,95%
  • IDX80 118   -3,40   -2,81%
  • IDXV30 136   -2,76   -1,99%
  • IDXQ30 132   -2,88   -2,13%

Dolar AS Bersiap Catat Kenaikan Mingguan Terbesar dalam Setahun pada Jumat (6/3)


Jumat, 06 Maret 2026 / 08:26 WIB
Dolar AS Bersiap Catat Kenaikan Mingguan Terbesar dalam Setahun pada Jumat (6/3)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) stabil pada awal perdagangan Asia, Jumat (6/3/2026), dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari setahun.

Peningkatan ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Penguatan dolar terjadi seiring meningkatnya ketegangan setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Baca Juga: AS Tegaskan Tidak Perluas Target Militer di Iran di Tengah Operasi Epic Fury

Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Euro dan yen masih berada di bawah tekanan. Lonjakan harga energi dinilai dapat memperburuk risiko inflasi sekaligus mengubah ekspektasi kebijakan moneter bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve.

Iran sebelumnya memperingatkan bahwa Washington akan “menyesal pahit” setelah sebuah kapal perang Iran ditenggelamkan dalam konflik tersebut.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan ia ingin terlibat dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya setelah serangan udara AS dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada tahap awal perang.

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dengan intensitas saat ini, dampaknya bisa sangat signifikan terhadap ekonomi global.

“Konflik yang berkepanjangan kemungkinan akan memicu inflasi yang lebih tinggi secara berkelanjutan, memperkuat dolar AS, serta sangat mengurangi peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed,” tulis Sycamore dalam sebuah catatan riset.

Baca Juga: China Genjot Belanja Pertahanan 7%, Ancaman Taiwan Meningkat?

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, turun tipis 0,06% ke level 99,00 pada perdagangan Jumat (6/3/2026) pagi.

Meski begitu, indeks ini masih berada di jalur kenaikan sekitar 1,4% sepanjang pekan ini, yang akan menjadi kenaikan terbesar sejak November 2024.

Euro relatif stabil di level US$ 1,1612. Sementara yen Jepang menguat tipis 0,06% menjadi 157,5 per dolar AS. Pound sterling juga hampir tidak berubah, naik 0,04% ke level US$ 1,3361.

Konflik meningkat pada Kamis (5/3) ketika jet tempur AS dan Israel menyerang berbagai wilayah di Iran, sementara beberapa kota di kawasan Teluk kembali menjadi sasaran serangan balasan.

Dalam wawancara telepon dengan Reuters, Trump mengatakan Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran yang selama ini disebut-sebut sebagai calon kuat pengganti ayahnya, kemungkinan bukan pilihan utama.

Baca Juga: Berkshire Hathaway Mulai Buyback Saham Lagi, CEO Greg Abel Ikut Borong Rp 245 Miliar

Di tengah gejolak pasar global, dolar AS menjadi salah satu aset yang diuntungkan. Sebaliknya, pasar saham, obligasi, dan bahkan logam mulia sempat mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Lonjakan harga energi akibat perang Timur Tengah juga memicu kekhawatiran kembalinya tekanan inflasi. Hal ini tercermin dari perubahan ekspektasi suku bunga di pasar keuangan global.

Data overnight index swaps (OIS) menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed baru akan terjadi pada September atau Oktober, menurut estimasi LSEG.

Ekspektasi pelonggaran kebijakan dari Bank of England juga mulai berkurang. Sementara itu, pasar uang bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) secepatnya tahun ini.

“Kekhawatiran terhadap inflasi seperti yang terjadi saat perang Rusia-Ukraina dan setelah pandemi masih sangat membekas di pasar,” kata Kepala Riset Pasar National Australia Bank, Skye Masters.

Baca Juga: Imbas Konflik Iran: Harga Bensin AS Melonjak, Donald Trump Panik?

Di tengah fokus pasar terhadap konflik geopolitik, investor cenderung mengabaikan sejumlah data ekonomi AS yang dirilis pada Kamis (5/3).

Data menunjukkan jumlah klaim baru tunjangan pengangguran di AS tidak berubah pada pekan lalu, sementara pemutusan hubungan kerja turun tajam pada Februari. Hal ini menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih stabil.

Kini perhatian pasar tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat (6/3). Survei Reuters terhadap ekonom memperkirakan penambahan 59.000 pekerjaan pada Februari, setelah sebelumnya meningkat 130.000 pada Januari.

Tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil di level 4,3%.

Sementara itu, Kepala Strategi Valuta Asing TD Securities Jayati Bharadwaj mengatakan, masih ada ruang bagi penyesuaian posisi beli dolar dalam jangka pendek di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off).

Baca Juga: Harga Bensin AS Naik Imbas Perang Iran, Begini Komentar Trump

Namun, ia menilai konflik Iran kemungkinan tetap terkendali, terutama karena AS sedang memasuki tahun pemilu paruh waktu.

“Penguatan dolar kemungkinan hanya akan berlanjut selama premi risiko pada harga minyak tetap tinggi, hingga terjadi perubahan rezim di Iran dengan dukungan AS,” tulis Bharadwaj.

Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia menguat 0,16% menjadi US$ 0,7017. Dolar Selandia Baru naik 0,15% menjadi US$ 0,5903.

Sementara di pasar kripto, bitcoin turun 0,26% ke level US$ 70.956,52 dan ether melemah 0,27% menjadi US$ 2.074,84.




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×