Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga melanjutkan pelemahan untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Selasa (28/7/2026).
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor utama yang membebani harga logam industri tersebut.
Baca Juga: Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Puluhan Terluka dan 150.000 Warga Dievakuasi
Mengutip Reuters, kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,5% menjadi US$ 13.663,50 per metrik ton pada pukul 09.10 GMT, setelah sempat melemah hingga 0,8% di awal perdagangan.
Secara teknikal, rata-rata pergerakan harga 50 hari (50-day moving average) di sekitar US$ 13.570 per ton masih menjadi level penopang (support) bagi harga tembaga.
Pialang Sucden Financial menilai prospek logam dasar masih cukup positif meski terjadi koreksi harga.
"Kami memperkirakan logam dasar masih akan mendapat dukungan ketika terjadi pelemahan harga karena fundamental pasokan sejumlah komoditas masih konstruktif. Namun, penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi AS membuat kenaikan harga memerlukan dukungan sentimen makro yang lebih kuat, terutama menjelang keputusan The Fed dan rilis data ekonomi penting AS pekan ini," tulis Sucden Financial dalam risetnya.
Baca Juga: Bursa Asia Anjlok ke Level Terendah Tiga Bulan, Rupiah Dekati Rekor Terlemah
Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam empat pekan. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam membuat komoditas yang diperdagangkan dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga berpotensi menekan permintaan.
Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat kebijakan moneter The Fed yang akan diumumkan pada Rabu (29/7), terutama setelah meredanya ketegangan antara AS dan Iran yang turut menekan harga minyak.
Berdasarkan data CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga berada di kisaran 62%, sedangkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 38%, meningkat tajam dari 16% sepekan lalu.
Kenaikan suku bunga berpotensi mengurangi aktivitas ekonomi dan pada akhirnya menekan permintaan terhadap logam industri seperti tembaga.
Meski demikian, pasokan tembaga di LME masih relatif ketat. Persediaan tembaga di gudang-gudang terdaftar LME turun menjadi 268.775 ton, level terendah sejak Maret.
Sementara itu, selisih harga tunai terhadap kontrak tiga bulan (cash-to-three-month backwardation) berada di US$ 30 per ton, setelah sebelumnya sempat menyentuh US$ 44,50 per ton, level tertinggi sejak Januari. Kondisi ini mengindikasikan pasokan jangka pendek masih terbatas.
Baca Juga: Saham LVMH Turun, Pemulihan Bisnis Louis Vuitton dan Dior Dinilai Belum Meyakinkan
Untuk logam dasar lainnya, harga aluminium turun 0,5% menjadi US$ 3.151,50 per ton, meskipun stok aluminium di gudang LME kembali menyusut menjadi 269.300 ton, level terendah abad ini.
Harga seng turun 0,9% menjadi US$ 3.577,50 per ton, nikel melemah 0,9% ke US$ 17.055 per ton, timah turun 1,3% menjadi US$ 53.580 per ton, sedangkan timbal stabil di US$ 1.890 per ton.














