kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.087.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.885   10,00   0,06%
  • IDX 7.473   31,59   0,42%
  • KOMPAS100 1.038   1,18   0,11%
  • LQ45 760   -0,06   -0,01%
  • ISSI 264   1,60   0,61%
  • IDX30 402   0,30   0,07%
  • IDXHIDIV20 495   -0,38   -0,08%
  • IDX80 117   0,01   0,01%
  • IDXV30 134   -0,28   -0,21%
  • IDXQ30 129   0,07   0,05%

Dolar Australia Sentuh Puncak Multi-Tahun, Pasar Berspekulasi Kenaikan Suku Bunga


Rabu, 11 Maret 2026 / 09:07 WIB
Dolar Australia Sentuh Puncak Multi-Tahun, Pasar Berspekulasi Kenaikan Suku Bunga
ILUSTRASI. Dolar Australia (KONTAN/Baihaki)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Australia menguat hingga mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terhadap sejumlah mata uang utama pada Rabu (11/3/2026).

Penguatan ini terjadi setelah pasar semakin yakin bank sentral Australia akan segera menaikkan suku bunga.

Melansir Reuters, mata uang Australia atau Aussie naik sekitar 0,3% ke level US$0,7140. Sebelumnya, mata uang tersebut sempat menyentuh level tertinggi 45 bulan di US$0,7168 dan melampaui puncak tahun 2023 di US$0,7158.

Baca Juga: Drone Hantam Fasilitas Diplomatik AS di Irak, Diduga Aksi Balasan Milisi Pro-Iran

Target kenaikan berikutnya yang menjadi perhatian pelaku pasar berada di sekitar US$0,7270.

Terhadap yen Jepang, dolar Australia bahkan menyentuh level tertinggi dalam 35 tahun di 113,01 yen.

Aussie juga mencapai hampir puncak 13 tahun terhadap dolar Selandia Baru serta level tertinggi 15 bulan terhadap euro.

Sementara itu, dolar Selandia Baru atau kiwi tertinggal di sekitar US$0,5932, karena pasar memperkirakan kenaikan suku bunga di negara tersebut baru akan terjadi sekitar September.

Penguatan dolar Australia sebagian besar dipicu pernyataan Wakil Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Andrew Hauser yang memperingatkan lonjakan harga minyak dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan meningkatkan tekanan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan pekan depan.

Baca Juga: Harga Minyak Bergejolak Rabu (11/3), IEA Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Terbesar

Sebelumnya, Gubernur Reserve Bank of Australia Michele Bullock juga menyatakan bahwa pertemuan kebijakan pada 17 Maret menjadi pertemuan yang “terbuka” untuk kemungkinan perubahan suku bunga.

Ekonom kepala di National Australia Bank (NAB) Sally Auld menilai, pejabat senior RBA melihat konflik Iran sebagai potensi kejutan inflasi.

“Komentar mereka menunjukkan pejabat RBA cenderung memandang konflik Iran sebagai guncangan inflasi,” ujarnya.

NAB kini memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Maret, diikuti kenaikan lagi pada Mei.

Sebelumnya, bank tersebut hanya memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga pada Mei.

Pasar juga telah meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga pada Maret menjadi sekitar 65%. Kenaikan seperempat poin akan membawa suku bunga acuan ke level sekitar 4,10% dan diperkirakan sepenuhnya terjadi paling lambat Mei.

Baca Juga: Pasar Valas Wait and See pada Rebu (11/3) di Tengah Perang Iran, Dolar Bertahan

Secara keseluruhan, pasar kini memperkirakan pengetatan kebijakan moneter sekitar 58 basis poin sepanjang tahun ini, yang berpotensi membawa suku bunga kembali ke puncak pascapandemi di sekitar 4,35%.

Inflasi utama Australia saat ini berada di level sekitar 3,8% dan diperkirakan bisa melampaui 4% seiring kenaikan harga bahan bakar.

Inflasi inti berada di kisaran 3,4%, masih di atas target bank sentral sebesar 2% hingga 3%.

Prospek kebijakan moneter yang lebih agresif tersebut juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun naik ke level tertinggi sejak pertengahan 2001.

Saat ini, yield obligasi tiga tahun Australia berada di sekitar 4,488%, atau sekitar 88 basis poin lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Selisih tersebut merupakan yang terlebar sejak 2016.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×