kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.847   -53,00   -0,30%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Dolar Stabil Senin (1/6), Menanti Kepastian Konflik Iran dan Arah Suku Bunga The Fed


Senin, 01 Juni 2026 / 08:28 WIB
Dolar Stabil Senin (1/6), Menanti Kepastian Konflik Iran dan Arah Suku Bunga The Fed
ILUSTRASI. Forex - Dolar AS (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak relatif stabil pada awal pekan ini setelah mencatat pelemahan mingguan.

Pelaku pasar kini menunggu perkembangan negosiasi perdamaian di Timur Tengah serta petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga bank-bank sentral utama dunia.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Ditopang Euforia AI Senin (1/6), Risiko AS-Iran Masih Membayangi

Pada perdagangan Senin (1/6/2026), indeks dolar AS (Dollar Index) yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama tercatat berada di level 99,00 atau nyaris tidak berubah.

Pekan lalu, indeks tersebut turun sekitar 0,4% seiring meningkatnya harapan bahwa AS dan Iran akan mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, sentimen tersebut kembali diuji setelah harga minyak melonjak pada awal perdagangan menyusul perintah Israel kepada pasukannya untuk memperluas operasi militer di Lebanon dalam konflik melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Presiden AS, Donald Trump, pada Jumat (30/5) mengatakan bahwa dirinya akan segera memutuskan proposal perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Menurut Kepala Strategi Valuta Asing Commonwealth Bank of Australia Joseph Capurso, arah pergerakan dolar dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS-Iran dan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini.

"Setelah Selat Hormuz kembali dibuka, harga minyak kemungkinan akan berangsur turun dan suku bunga kembali menjadi faktor utama yang memengaruhi dolar AS," ujarnya.

Baca Juga: Investasi AI China Terancam: AS Perketat Akses Pembelian Chip, Ini Detailnya!

Fokus Pasar Beralih ke Data Tenaga Kerja AS

Perhatian investor juga tertuju pada laporan nonfarm payrolls AS periode Mei yang akan diumumkan pada 5 Juni mendatang.

Berdasarkan survei Reuters, tingkat pengangguran AS diperkirakan bertahan di level 4,3%, sementara jumlah lapangan kerja baru diproyeksikan bertambah sekitar 85.000.

Data tersebut menjadi penting karena sejumlah pejabat Federal Reserve telah mengindikasikan bahwa bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga apabila konflik di Timur Tengah mendorong inflasi semakin tinggi.

Saat ini pasar keuangan memperkirakan langkah berikutnya The Fed adalah menaikkan suku bunga acuannya dari kisaran 3,50%-3,75%, kemungkinan sebelum akhir tahun.

Sebelumnya, pasar justru memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga sebelum konflik Iran pecah.

Baca Juga: Tantang Dominasi MacBook Neo, Dell Luncurkan Laptop XPS 13 Seharga US$ 699

Euro dan Yen Bergerak Terbatas

Di pasar mata uang, euro melemah tipis 0,08% ke level US$ 1,165 per euro.

Sementara itu, yen Jepang turun 0,08% ke level 159,41 per dolar AS, mendekati area psikologis 160 yang sebelumnya mendorong pemerintah Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Pekan lalu, Kementerian Keuangan Japan mengonfirmasi telah menggelontorkan 11,7 triliun yen atau sekitar US$ 73,4 miliar untuk menopang nilai tukar yen sepanjang bulan sebelumnya.

Pelaku pasar kini menantikan pidato Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, pada Rabu (3/6) guna mencari petunjuk terkait kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan bank sentral berikutnya.

Meski belum ada konsensus di internal BOJ, sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut opsi penghentian sementara pengurangan pembelian obligasi pemerintah kini semakin mendapat dukungan.

Baca Juga: Brasil Selidiki Dugaan Kasus Ebola di Sao Paulo, Pasien Baru Pulang dari Kongo

ECB Berpotensi Tetap Hawkish

Di Eropa, anggota dewan European Central Bank Isabel Schnabel mengatakan, pekan lalu bahwa ECB tetap perlu menaikkan suku bunga bulan ini meskipun kesepakatan damai antara AS dan Iran berhasil tercapai.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa risiko inflasi masih menjadi perhatian utama bank-bank sentral global, bahkan ketika pasar berharap ketegangan geopolitik dapat segera mereda.

Sementara itu, dolar Australia relatif stabil di level US$ 0,7181 per dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru (kiwi) melemah 0,17% ke US$ 0,5978.




TERBARU

[X]
×