kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.941   23,00   0,13%
  • IDX 5.936   -157,61   -2,59%
  • KOMPAS100 766   -19,95   -2,54%
  • LQ45 591   -10,76   -1,79%
  • ISSI 206   -6,62   -3,11%
  • IDX30 330   -4,72   -1,41%
  • IDXHIDIV20 423   -4,31   -1,01%
  • IDX80 88   -2,12   -2,37%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,74%
  • IDXQ30 108   -1,04   -0,95%

Duh, sejumlah negara bakal berjuang melawan corona sekaligus cuaca ekstrem


Sabtu, 18 April 2020 / 00:10 WIB
ILUSTRASI.


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

Dengan rumahsakit yang sudah penuh pasien Covid-19, "Kami benar-benar harus bekerja sangat keras tahun ini untuk memastikan kami meminimalkan beban terkait gelombang panas pada rumahsakit," ujar Kishore.

Badai Pasifik

Sementara di Vanuatu, Sanaka Samarasinha, koordinator warga Amerika Serikat di Fiji, mengatakan, sekitar 160.000 orang membutuhkan bantuan setelah Topan Harold merobek-robek negara kepulauan di Pasifik Selatan pekan lalu.

"Semua hasil panen telah hancur," katanya kepada Reuters. "Jika musim tanam baru tidak cepat ditanam, kita akan melihat kerawanan pangan untuk beberapa waktu," ucap dia memperingatkan.

Baca Juga: Banyak yang langgar lockdown, Duterte ancam terapkan darurat militer

Bencana itu memaksa Pemerintah Vanuatu mengumumkan keadaan darurat kedua pada 11 April, setelah sebelumnya melarang pertemuan massal untuk mencegah penularan virus korona. Vanuatu belum punya satu kasus pun hingga 15 April.

Sedang pulau-pulau di Pasifik Utara, Lemau Afamasaga dari Palang Merah Palau menyatakan, mungkin harus bersaing dengan kondisi seperti kekeringan dan juga virus corona.

"Dalam beberapa bulan terakhir, virus corona mendorong masyarakat setempat untuk mencuci tangan mereka. Tetapi, kami ditanya, bagaimana cara kami mencuci tangan ketika kekurangan air?" katanya.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×