kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Duh, sejumlah negara bakal berjuang melawan corona sekaligus cuaca ekstrem


Sabtu, 18 April 2020 / 00:10 WIB
ILUSTRASI.


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

Dengan rumahsakit yang sudah penuh pasien Covid-19, "Kami benar-benar harus bekerja sangat keras tahun ini untuk memastikan kami meminimalkan beban terkait gelombang panas pada rumahsakit," ujar Kishore.

Badai Pasifik

Sementara di Vanuatu, Sanaka Samarasinha, koordinator warga Amerika Serikat di Fiji, mengatakan, sekitar 160.000 orang membutuhkan bantuan setelah Topan Harold merobek-robek negara kepulauan di Pasifik Selatan pekan lalu.

"Semua hasil panen telah hancur," katanya kepada Reuters. "Jika musim tanam baru tidak cepat ditanam, kita akan melihat kerawanan pangan untuk beberapa waktu," ucap dia memperingatkan.

Baca Juga: Banyak yang langgar lockdown, Duterte ancam terapkan darurat militer

Bencana itu memaksa Pemerintah Vanuatu mengumumkan keadaan darurat kedua pada 11 April, setelah sebelumnya melarang pertemuan massal untuk mencegah penularan virus korona. Vanuatu belum punya satu kasus pun hingga 15 April.

Sedang pulau-pulau di Pasifik Utara, Lemau Afamasaga dari Palang Merah Palau menyatakan, mungkin harus bersaing dengan kondisi seperti kekeringan dan juga virus corona.

"Dalam beberapa bulan terakhir, virus corona mendorong masyarakat setempat untuk mencuci tangan mereka. Tetapi, kami ditanya, bagaimana cara kami mencuci tangan ketika kekurangan air?" katanya.




TERBARU

[X]
×