CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,33   10,53   1.04%
  • EMAS995.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Ekonomi China Terpukul Akibat Kebijakan Zero Covid-19


Senin, 16 Mei 2022 / 13:48 WIB
Ekonomi China Terpukul Akibat Kebijakan Zero Covid-19
ILUSTRASI. Manufaktur China. REUTERS/Aly Song


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Keputusan pemerintah China melakukan lockdown untuk mencapai zero Covid-19 telah berdampak besar terhadap ekonominya. Output industri dan belanja konsumen pada April melorot ke level terburuk sejak pandemi. 

Output industri China di bulan April secara tak terduga turun 2,9%  dari periode yang sama tahun 2021. Penjualan ritel kontraksi 11,1%, lebih lemah dari proyeksi analis sebelumnya yang turun 6,6%. 

Tingkat pengangguran naik jadi 6,1% dimana tingkat pengangguran kaum muda mencapai rekor. Data ekonomi China ini direspon investor dengan menjual saham China hingga indeks berjangka AS dan minyak. 

Ekonomi China telah mendapat pukulan keras dari kebijakan pemerintahnya untuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan melakukan penguncian atau lockdown selama beberapa minggu di kota-kota besar seperti Shanghai dan melakukan pembatasan di beberapa wilayah lain.

Baca Juga: China's Economy Cools Sharply in April as Lockdowns Bite

Bloomberg economics memperkirakan PDB China akan turun 0,68% pada April secara year on year (yoy). Itu akan menjadi kontraksi pertama sejak Februari 2020.

Sementara Zhang Zhiwei, Kepala Ekonom Pinpoint Asset Maanegment melihat ada kemungkinan  ekonomi China menyusut pada kuartal II akibat kebijakan pemerintahnya tersebut. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5% tahun ini dinilai akan jauh dari jangkauan.

Pemerintah China menghadapi desakan untuk melucurkan stimulus baru dalam menstabilkan ekonomi. Zhang melihat efektivitas kebijakan baru itu akan tergantung pada bagaimana Beijing menyesuaikannya kebijakan zero krisis omicronnya. 

Sementara pemerintah masih berpegang teguh pada strategi Zero Covid untuk mengekang infeksi meskipun transmisi varian omicron tinggi yang menempatkan kota pada risiko yang lebih besar untuk berulang kali melakukan penguncian. 

Chang Shu dan Eric Zhu, ekonom Bloomberg mengatakan, data aktivitas April China mengungkap kerusakan akibat penguncian Covid di Shanghai dan bagian lain negara itu. Dampaknya jauh lebih luas dan lebih dalam dari yang diperkirakan. 

"Data menunjukkan perlambatan yang lebih dalam tahun ini dari yang diharapkan," ujarnya. 

Gangguan ouput pabrik di China memperburuk prospek pertumbuhan global dan memperumit gambaran inflasi. Hambatan rantai pasokan telah mempengaruhi perusahaan dari Tesla Inc hingga Apple Inc. 

Sementara pertumbuhan ekspor melambat bulan lalu ke laju terlemah sejak Juni 2020, karena operasi di pelabuhan terbesar dunia di Shanghai mengalami penurunan.

Chetan Ahya, kepala ekonom Asia Morgan Stanley, mengatakan tekanan rantai pasokan kemungkinan memuncak pada April dan ada optimisme tentang beberapa perbaikan ke depan.

Baca Juga: Shanghai Targetkan Kembali ke Kehidupan Normal Mulai 1 Juni

“Sepertinya Anda akan melihat semacam solusi untuk masalah rantai pasokan di China selama beberapa minggu ke depan,” katanya dalam sebuah wawancara di Bloomberg TV. 

“Dan pembukaan kembali Shanghai jelas merupakan salah satu faktor penting yang kami perhatikan juga. Jadi ya, akan ada banyak tantangan untuk seluruh dunia, tetapi sepertinya yang terburuk ada di belakang kita.”

Beijing telah mengisyaratkan bahwa pembuat kebijakan akan meningkatkan dukungan untuk ekonomi, dengan Perdana Menteri Li Keqiang baru-baru ini mendesak para pejabat untuk memastikan stabilitas melalui kebijakan fiskal dan moneter.

Bank Rakyat China mengambil langkah pada hari Minggu untuk meredakan krisis perumahan dengan mengurangi tingkat hipotek untuk pembeli rumah pertama kali. 

Namun, suku bunga pinjaman kebijakan satu tahun tidak berubah pada hari Senin, karena tekanan inflasi dan kekhawatiran tentang arus keluar modal mengurangi ruang lingkup untuk pelonggaran lebih lanjut.

Tekanan ekonomi yang sama juga terjadi di AS. Secara tak terduga, Negeri Paman Sam ini mencatatkan PDB minus 1,4% secara yoy pada kuartal I-2022. Kinerja ekonomi AS yang tumbuh kencang lebih dari setahun terakhir berbalik di tengah kenaikan kasus Covid-19 dan penuurunan dana bantuan pandemi dari pemerintah. 

Penurunan pertama ekonomi AS sejak resesi akibat pandemi Covid-19, sebagian besar didorong oleh defisit perdagangan yang lebih luas karena impor melonjak dan perlambatan laju akumulasi persediaan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×