kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Ekonomi lesu, developer properti China berguguran


Jumat, 26 Juli 2019 / 09:18 WIB


Sumber: South China Morning Post | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Jumlah pengembang properti di China yang gulung tikar mengalami lonjakan. Hal ini disebabkan kesulitan mendapat pinjaman di tengah laju ekonomi China yang melambat.

Dilansir dari South China Morning Post, situs web People's Court Daily yang dikelola pemerintah melaporkan bahwa sejauh ini ada 274 developer properti di China yang telah mengajukan pailit. Jumlah ini naik 50% dari tahun lalu.

Baca Juga: Belum berdamai di perang dagang, kini AS-China panas di Selat Taiwan

Tak cuma developer kecil, masalah ini juga menimpa sejumlah pengembang ternama di China.

Contoh yang terbaru adalah pengembang  Yinyi Group yang merupakan pengembang di kota pelabuhan Tiongkok, Ningbo. Perusahaan ini mengajukan pailit usai gagal membayar utang sebesar 300 juta yuan yang didapat pada tiga tahun lalu.

Sebenarnya jumlah developer yang mengajukan pailit memang belum seberapa dibanding total jumlah pengembang di China yang jumlahnya ditaksir mencapai 100.000 perusahaan.

Tapi tetap saja kondisi ini mendorong kekhawatiran akan adanya peningkatan default dari para pelaku bisnis.

Baca Juga: Bisnis merosot berat, Nissan tunda penambahan produksi di Indonesia

Ekonomi China sendiri tumbuh 6,2% pada kuartal kedua 2019. Capaian ini merupakan laju triwulanan paling lambat sejak pencatatan dimulai pada 1992.

"Semua orang, dari pembeli rumah hingga investor mulai khawatir tentang arus kas pengembang," kata Yan Yuejin, Direktur Riset di perusahaan jasa properti E-House China R&D Institute.

Developer kini semakin sulit untuk mengakses sumber kredit tradisional karena Beijing telah berusaha untuk menekan tingkat utang yang memang sudah tinggi.

Baca Juga: Tantang ancaman China, AS kirim kapal perang di Selat Taiwan




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×