Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Rusia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2025 akan melambat menjadi 1,5%. Angka ini jauh di bawah perkiraan sebelumnya sebesar 2,5%, karena suku bunga tinggi yang diberlakukan untuk mengurangi inflasi telah menghambat pinjaman.
Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov kepada Presiden Vladimir Putin pada Rabu (27/8/2025).
Reuters melaporkan, ekonomi perang Rusia tumbuh pesat sebesar 4,1% pada tahun 2023 dan 4,3% pada tahun 2024, jauh lebih cepat daripada negara-negara G7, meskipun telah mengalami beberapa putaran sanksi Barat setelah invasinya ke Ukraina pada tahun 2022. Akan tetapi, pertumbuhannya melambat tajam tahun ini.
Menteri Ekonomi Maxim Reshetnikov memperingatkan pada bulan Juni bahwa Rusia berada di ambang resesi kecuali jika kebijakan moneter diubah.
Pengeluaran militer tertinggi Rusia sejak Perang Dingin telah memicu inflasi, yang mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuannya menjadi 21% pada bulan Oktober. Ini menjadi level tertinggi sejak awal pemerintahan Presiden Vladimir Putin pada tahun 2003.
Bank sentral Rusia memangkas suku bunga menjadi 20% pada bulan Juni dan kemudian menjadi 18% pada bulan Juli. Tetapi, menurut analis, perekonomian masih terhambat oleh biaya kredit dan kekurangan tenaga kerja.
Baca Juga: Tarif Baru AS Ancam Ekonomi India: Untung US$17 Miliar dari Minyak Rusia Bisa Hilang
Siluanov mengatakan kepada Putin bahwa Kementerian Ekonomi kini memperkirakan pertumbuhan setidaknya 1,5% tahun ini. Perkiraan resmi untuk tahun 2025 adalah 2,5%.
"Jika tahun ini kita melihat kondisi yang cukup sulit untuk implementasi kebijakan moneter dan kredit, kita melihat bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi tetap tidak akan kurang dari 1,5% tahun ini, setidaknya menurut penilaian Kementerian Ekonomi," kata Siluanov.
"Anggaran berimbang akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi bank sentral untuk melunakkan kebijakan moneter dan kredit, yang berarti sumber daya kredit akan lebih mudah diakses," tambahnya.
Reuters pada bulan Januari melaporkan secara eksklusif bahwa Putin semakin khawatir tentang distorsi dalam ekonomi Rusia di masa perang, terutama dengan pemangkasan investasi oleh perusahaan-perusahaan besar akibat tingginya suku bunga.
Pertumbuhan atau stagnasi?
Selama dua periode pertama Putin sebagai presiden, dari tahun 2000 hingga 2008, ukuran ekonomi Rusia melonjak menjadi US$ 1,7 triliun dari kurang dari US$ 200 miliar pada tahun 1999.
Namun, PDB nominal Rusia sekarang hanya US$ 2,2 triliun, hampir sama dengan tingkat pada tahun 2013, setahun sebelum Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina.
"Ada banyak nuansa dalam hal memastikan pertumbuhan ekonomi," kata Putin kepada Siluanov dan para menteri penting lainnya.
Tonton: DPR Bocorkan Rencana Rusia hingga Eropa Investasi EBT di Indonesia
Ia mengatakan bahwa terdapat perdebatan terus-menerus antara pemerintah, bank sentral, dan para ahli mengenai suku bunga acuan dan situasi ekonomi.
Wakil Perdana Menteri Pertama Denis Manturov mengatakan kepada Putin bahwa industri manufaktur akan tumbuh sekitar 3% - di bawah perkiraan sebelumnya sebesar 4,3% - dan bahwa produksi industri akan sekitar 2% - di bawah perkiraan sebelumnya sebesar 2,6%.
Berdasarkan badan statistik federal Rosstat awal bulan ini, PDB Rusia tumbuh sebesar 1,1% pada kuartal kedua tahun 2025 dibandingkan dengan pertumbuhan 4,0% pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut Dana Moneter Internasional, ekonomi Rusia kini diperkirakan akan tumbuh sebesar 0,9% tahun ini, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya sebesar 1,5%.
Dengan ekonomi yang melambat tetapi Rusia masih menghabiskan banyak uang untuk perang di Ukraina, Moskow kemungkinan harus menaikkan pajak dan memangkas pengeluaran.