kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.211   48,00   0,28%
  • IDX 7.542   -17,77   -0,24%
  • KOMPAS100 1.031   -8,30   -0,80%
  • LQ45 736   -7,70   -1,04%
  • ISSI 273   -0,06   -0,02%
  • IDX30 401   0,75   0,19%
  • IDXHIDIV20 492   5,09   1,05%
  • IDX80 115   -0,96   -0,82%
  • IDXV30 141   2,14   1,54%
  • IDXQ30 129   0,46   0,36%

Ekspor Moncer, Surplus Perdagangan Jepang Justru Anjlok


Rabu, 22 April 2026 / 17:07 WIB
Ekspor Moncer, Surplus Perdagangan Jepang Justru Anjlok
ILUSTRASI. Bursa Asia - Nikkei Jepang (REUTERS/Issei Kato)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan biaya energi mulai menggerus fondasi perdagangan Jepang. Di balik pertumbuhan ekspor yang masih positif, tekanan dari sisi impor kian membesar dan mempersempit ruang surplus Negeri Matahari Terbit ini.

Melansir data Bloomberg (22/4), data terbaru menunjukkan ekspor Jepang pada Maret 2026 masih tumbuh 11,7% secara tahunan (year-on-year/YoY), sedikit di atas ekspektasi pasar. Kinerja ini didukung permintaan global yang relatif solid serta kenaikan harga barang ekspor.

Namun, cerita utamanya bukan lagi pada ekspor. Impor Jepang justru melonjak lebih tinggi, yakni 10,9% YoY jauh melampaui proyeksi. Kenaikan ini terutama dipicu oleh mahalnya energi dan bahan baku di tengah konflik geopolitik yang belum mereda.

Akibatnya, surplus perdagangan Jepang menyusut tajam menjadi 667 miliar yen, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,1 triliun yen. Penyempitan ini menandai meningkatnya tekanan eksternal terhadap keseimbangan perdagangan.

Baca Juga: Inflasi Inggris Melonjak Menjadi 3,3%, Dampak Perang Iran Mulai Terasa

Gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk, termasuk hambatan distribusi melalui Selat Hormuz, menjadi faktor utama lonjakan biaya impor. Kondisi ini memperlihatkan kerentanan Jepang yang sangat bergantung pada impor energi.

Dampaknya mulai terasa di sektor industri. Kelangkaan nafta sebagai bahan baku petrokimia telah memaksa puluhan perusahaan menunda bahkan menghentikan pesanan. Ini menjadi sinyal bahwa tekanan tidak lagi bersifat sementara, melainkan mulai mengganggu aktivitas produksi.

Di sisi lain, ekspor ke pasar utama seperti Amerika Serikat dan China memang masih tumbuh. Namun, ketahanan ini dinilai rapuh jika tekanan biaya terus meningkat dan rantai pasok belum pulih sepenuhnya.

Analis menilai, kenaikan harga minyak berpotensi memperdalam defisit energi Jepang. “Lonjakan harga energi akan mendorong impor lebih tinggi dan menekan daya beli domestik,” tulis ekonom dalam risetnya.

Kondisi ini juga memperumit langkah bank sentral. Bank of Japan dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan. Dengan inflasi yang didorong biaya dan pemulihan ekonomi yang belum merata, ruang pengetatan kebijakan menjadi semakin terbatas.

Dengan kata lain, di tengah ekspor yang masih bertahan, ancaman terbesar justru datang dari dalam neraca perdagangan itu sendiri: impor mahal yang berisiko menggerus momentum pemulihan ekonomi Jepang.

Baca Juga: Menteri Keuangan Jepang Akan Bahas Model AI Mythos dengan Bank Besar


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×