Sumber: Time | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Eropa berjanji akan bersatu dan merapatkan barisan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan mengenakan tarif impor terhadap delapan negara sekutunya. Tarif ini dijatuhkan karena negara-negara tersebut mengirim pasukan ke Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang berulang kali diancam Trump untuk dianeksasi oleh AS.
Time melaporkan, Trump menyatakan akan mengenakan tarif sebesar 10% atas barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Negara-negara ini mengirim sejumlah kecil personel militer ke Greenland untuk mengikuti latihan militer dalam beberapa hari terakhir.
Langkah Trump ini muncul di tengah meningkatnya upaya AS untuk menguasai Greenland. Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman keras dari para pemimpin Eropa, apalagi negara-negara itu sebelumnya sudah dikenai tarif antara 10% hingga 15%. Konflik ini juga berpotensi merusak perjanjian dagang AS dengan Inggris (Mei) dan Uni Eropa (Juli).
Pada Minggu, delapan negara tersebut mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan dukungan penuh kepada Kerajaan Denmark dan rakyat Greenland.
Mereka menyatakan bahwa sebagai anggota NATO, mereka berkewajiban memperkuat keamanan kawasan Arktik demi kepentingan bersama lintas Atlantik. Latihan militer yang dipimpin Denmark bersama sekutu NATO disebut tidak mengancam siapa pun.
Baca Juga: Pentagon Siapkan 1.500 Tentara untuk Antisipasi Kerusuhan di Minnesota
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa ancaman tarif justru merusak hubungan transatlantik dan berisiko memicu eskalasi berbahaya. Negara-negara Eropa menegaskan akan tetap bersatu, terkoordinasi, dan mempertahankan kedaulatan masing-masing.
Sehari sebelumnya, pengumuman Trump memicu kemarahan di berbagai ibu kota Eropa. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut kehadiran pasukan Eropa di Greenland sebagai situasi yang sangat berbahaya bagi keselamatan dan kelangsungan planet ini.
Trump bahkan mengancam akan menaikkan tarif menjadi 25% mulai 1 Juni, dan tarif tersebut hanya akan dicabut jika tercapai kesepakatan pembelian Greenland secara total dan penuh oleh Amerika Serikat.
Ancaman ini memicu aksi demonstrasi besar-besaran di Denmark dan Greenland. Di ibu kota Greenland, Nuuk, ratusan orang berunjuk rasa di depan Konsulat AS dengan membawa poster bertuliskan “Greenland tidak untuk dijual” dan “Yankees pulang!”.
Para pemimpin Eropa bereaksi keras. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut tarif terhadap sekutu NATO sebagai tindakan yang “sepenuhnya salah.” Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut kebijakan tersebut “tidak dapat diterima” dan menegaskan bahwa Eropa tidak akan tunduk pada intimidasi.
Baca Juga: AS Klaim Perlu Kuasai Greenland karena Kelemahan Eropa
Uni Eropa langsung menggelar pertemuan darurat di Brussel, dan ada kemungkinan pembekuan perjanjian dagang dengan AS. Wakil Kanselir Jerman Lars Klingbeil menegaskan Eropa tidak akan diperas dan akan memberikan balasan bersama.
Trump berdalih bahwa penguasaan penuh atas Greenland diperlukan demi “keamanan nasional.” Namun Eropa dengan tegas menolak. Denmark bahkan memperkuat kehadiran militernya di Greenland dengan kapal perang, drone, dan jet tempur, menepis ejekan Trump yang sebelumnya menyebut Denmark hanya mengandalkan “kereta anjing salju.”
Negara-negara NATO Eropa lain seperti Prancis, Inggris, Jerman, Swedia, dan Norwegia juga mengirim pasukan ke Greenland dalam latihan militer Operation Arctic Endurance.
Sementara itu, pemerintah dan rakyat Greenland secara konsisten menolak gagasan menjadi bagian dari Amerika Serikat. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menegaskan bahwa jika harus memilih, Greenland akan tetap bersama Denmark.
Tonton: NATO Kerahkan Pasukan ke Greenland
“Negeri kami bukan objek rebutan kekuatan besar. Kami adalah sebuah bangsa, sebuah tanah, dan sebuah demokrasi,” kata Nielsen. “Ini harus dihormati, terutama oleh teman dekat.”
Trump sendiri dikenal kerap menggunakan tarif sebagai alat tekanan politik luar negeri, seperti yang ia lakukan terhadap India, China, dan Inggris dalam masa jabatan keduanya.











![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
