Gazprom Sebut Pernah Ada Peralatan Militer NATO di Sekitar Pipa Gas Nord Stream

Selasa, 11 Oktober 2022 | 12:54 WIB Sumber: Reuters
Gazprom Sebut Pernah Ada Peralatan Militer NATO di Sekitar Pipa Gas Nord Stream

ILUSTRASI. Ilustrasi pipa gas Gazprom.


KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Juru bicara Gazprom pada hari Senin (10/10) mengungkapkan bahwa perusahaannya sempat menemukan peralatan militer milik NATO di sekitar pipa gas Nord Stream pada tahun 2015.

Laporan terbaru dari Gazprom ini kemungkinan bisa menjadi petunjuk baru untuk menemukan penyebab kebocoran pipa Nord Stream beberapa waktu lalu.

Dalam wawancaranya dengan kanal televisi Rusia SeaFox, juru bicara Gazprom Sergei Kupriyanov mengatakan ada peralatan perusak ranjau di sekitar pipa Nord Stream 1.

Kupriyanov juga menjelaskan bahwa peralatan tersebut berhasil diambil dari kedalaman sekitar 40 meter dan kemudian diamankan.

"Transportasi gas, yang terhenti karena temuan itu, telah dipulihkan," kata Kupriyanov, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Dituding Jadi Dalang Kebocoran Pipa Gas Nord Stream, Kremlin: Itu Konspirasi Bodoh

Dugaan bahwa kebocoran ini diakibatkan oleh aktivitas NATO juga sempat diutarakan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, akhir bulan lalu.

"Pada bulan Juli, ada latihan NATO dengan menggunakan peralatan laut dalam di daerah pulau Bornholm. Kawasan itu dijejali infrastruktur NATO," ungkap Zakharova, seperti dikutip TASS (29/9).

Kebocoran pipa gas Nord Stream beberapa waktu lalu jelas berdampak pada bisnis Gazprom. Raksasa energi Rusia ini tercatat memiliki 51% bagian dari Nord Stream yang berbasis di Swiss.

Pipa gas milik Nord Stream 1 dan Nord Stream 2 ditemukan bocor di dasar laut Baltik akhir bulan lalu. Investigasi internasional masih terus dilakukan, mengingat itu merupakan jalur gas penting bagi Eropa.

Gas dalam jumlah yang cukup besar bocor ke Laut Baltik di lepas pantai Denmark dan Swedia.

Baca Juga: Diplomat Rusia Menduga Latihan Militer NATO Jadi Penyebab Kerusakan Pipa Nord Stream

Eropa mencurigai ada upaya sabotase yang dilakukan oleh Rusia agar negara-negara Barat semakin kesulitan mendapat gas. Di sisi lain, pihak Rusia menyebut Barat sengaja menjadikan insiden ini untuk menyerang balik Rusia.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sempat menyebut tuduhan negara Barat itu sama sekali tidak masuk akal.

"Cukup dapat diprediksi, dan juga dapat diprediksi bodoh untuk menyuarakan versi seperti itu. Itu dapat diprediksi, bodoh dan tidak masuk akal" kata Peskov, seperti dikutip TASS.

Peskov juga menjelaskan bahwa insiden yang terjadi di pipa gas Nord Stream 1 dan Nord Stream 2 juga menimbulkan dilema besar bagi Rusia. 

"Ini adalah masalah besar bagi kami. Kedua jalur Nord Stream 2 diisi dengan gas, seluruh sistem siap untuk memompa gas, dan gas ini sangat mahal," lanjutnya. 

Peskov mengaku sangat prihatin dengan insiden tersebut. Apalagi, ini terjadi ketika Eropa sedang mengalami kesulitan dalam mendapatkan gas alam.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru