kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Gedung Putih: Laporan AS menghapus perusahaan China dari bursa adalah berita palsu


Senin, 30 September 2019 / 22:45 WIB
ILUSTRASI. Bendera China, Partai Komunis China, dan Amerika Serikat


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Penasihat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro menyebut laporan tentang Pemerintahan Donald Trump mempertimbangkan penghapusan perusahaan-perusahaan China dari bursa saham Amerika Serikat (AS) sebagai "berita palsu."

"Cerita itu, yang muncul di Bloomberg, saya sudah membacanya jauh lebih hati-hati daripada yang ditulis," kata Navarro kepada CNBC, Senin (30/9), seperti dikutip Reuters. "Lebih dari setengahnya sangat tidak akurat atau hanya (berita) palsu," tegasny.

Tiga sumber Bloomberg News pada Jumat (27/9) pekan lalu mengungkapkan, Pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan penghapusan perusahaan China tersebut, yang akan menjadi eskalasi radikal dari perang dagang AS-China.

Baca Juga: China: Pemisahan hubungan China-AS bisa menciptakan kekacauan

Bloomberg News pertama kali melaporkan pada minggu lalu bahwa Pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan batasan untuk portofolio investor AS, termasuk menghapuskan perusahaan-perusahaan China dari daftar bursa negeri uak Sam.

"Itu benar-benar jurnalisme yang tidak bertanggungjawab dan masalah yang kami miliki di sini. Kisah-kisah buruk ini mendorong keluar yang tidak baik," kata Navarro. "Dan, apa yang terjadi adalah segera setelah Bloomberg meletakkannya di sana, ada tekanan dari orang lain untuk meletakkannya di sana," ujar dia.

"Kisah ini begitu penuh dengan ketidakakuratan, dan dalam hal kebenaran masalah ini, apa yang Departemen Keuangan AS katakan, saya pikir akurat," imbuh Navarro.




TERBARU

[X]
×