kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Harga Minyak Naik di Tengah Ancaman Blokade Laut AS terhadap Iran


Jumat, 14 Agustus 2026 / 16:30 WIB
Harga Minyak Naik di Tengah Ancaman Blokade Laut AS terhadap Iran
ILUSTRASI. Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (14/8/2026), dan berada di jalur kenaikan mingguan. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (14/8/2026), dan berada di jalur kenaikan mingguan. Penguatan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat (AS) mengancam akan memberlakukan blokade laut tanpa batas waktu terhadap Iran, sehingga memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$1,43 atau 1,64% menjadi US$88,50 per barel pada pukul 08.10 GMT (15:10 WIB). Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,56 atau 1,92% menjadi US$82,81 per barel.

Analis SEB Research Bjarne Schieldrop mengatakan kenaikan harga minyak merupakan dampak alami dari pendekatan terbaru AS terhadap Iran.

"Harga minyak yang lebih tinggi merupakan hasil alami dari pendekatan terbaru AS, yang mengindikasikan perpanjangan signifikan dari masalah di Timur Tengah dengan sedikit harapan penyelesaian dalam waktu dekat," ujar Schieldrop.

Baca Juga: Mahkamah Konstitusi Afrika Selatan Hentikan Eksplorasi Lepas Pantai Shell

Pada Kamis (13/8/2026), AS memperingatkan bahwa pihaknya dapat mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu sekaligus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Ancaman tersebut disampaikan ketika perundingan gencatan senjata mengalami kebuntuan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah AS akan mengumumkan langkah-langkah baru untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

"Perhatikan perkembangan ini karena akan ada lebih banyak pengumuman pada pekan depan, karena kami akan menerapkan langkah-langkah yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara," kata Bessent kepada Newsmax dalam program "Rob Schmitt Tonight".

Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar

Ancaman blokade tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran arus energi melalui Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut sebelumnya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global setiap hari sebelum konflik dimulai pada akhir Februari.

Schieldrop menilai prospek normalisasi arus perdagangan melalui Selat Hormuz kini semakin tidak pasti.

"Normalisasi arus perdagangan melalui Selat Hormuz kini tiba-tiba tidak memiliki harapan dalam waktu dekat," ujar Schieldrop.

Iran juga telah membatasi arus lalu lintas melalui Selat Hormuz. Aktivitas pelayaran di jalur tersebut turun di bawah rata-rata bulanan menjelang akhir pekan ini. Kondisi tersebut terjadi di tengah klaim yang saling bertentangan antara Iran dan AS mengenai kendali atas jalur perairan strategis tersebut.

Baca Juga: Apple Latih Model AI Khusus China, Gandeng Alibaba untuk Perkuat Apple Intelligence

Ketegangan semakin meningkat setelah dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) diserang ketika melintasi Selat Hormuz pada Kamis. Kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), WAM, melaporkan bahwa pemerintah UEA mengecam insiden tersebut sebagai serangan Iran.

Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lebih lama, pasar energi global berpotensi menghadapi tekanan pasokan yang lebih besar. Kondisi tersebut dapat mendorong harga minyak semakin tinggi karena pelaku pasar akan memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak mentah.

Prospek Permintaan Minyak Menjadi Penahan Kenaikan Harga

Meski risiko geopolitik mendorong harga minyak, prospek permintaan global menjadi faktor yang berpotensi membatasi penguatan harga.

Proyeksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan pertumbuhan permintaan minyak yang lebih lemah. Di sisi lain, persediaan minyak mentah Amerika Serikat mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari tiga setengah tahun.

Kepala Ekonomi dan Next Generation Research Julius Baer, Norbert Rucker, mengatakan data terbaru menunjukkan kondisi persediaan minyak lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Baca Juga: Selena Gomez Digugat Investor, Dituding Gagal Kembangkan Startup Kesehatan Mental

"Laporan IEA dan EIA pekan ini cukup mengungkapkan. Persediaan bertahan jauh lebih baik daripada yang dikhawatirkan, yang seharusnya mendorong harga minyak turun," kata Rucker.

Dengan demikian, pasar minyak saat ini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Risiko gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memberikan tekanan ke atas harga minyak, sementara pertumbuhan permintaan yang lebih lemah dan tingginya persediaan minyak AS berpotensi menahan kenaikan.

Perkembangan konflik dan kebijakan AS terhadap Iran, khususnya terkait Selat Hormuz, akan menjadi perhatian utama pasar minyak global dalam beberapa hari ke depan. Setiap gangguan lebih lanjut terhadap jalur tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas harga minyak dan memperbesar risiko terhadap pasokan energi dunia.




TERBARU

[X]
×