Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - LONDON. Aktivitas pelintasan melalui Selat Hormuz hampir terhenti total pada hari Jumat (14/8/2026) setelah dua kapal diserang di wilayah tersebut dan Amerika Serikat menyatakan dapat mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran untuk jangka waktu tak terbatas.
Mengutip Reuters, Jumat (14/8/2026)Seorang sumber senior Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa tidak ada kemajuan dalam pembicaraan untuk menindaklanjuti kesepakatan bulan Juni guna mengakhiri perang.
Sejak gencatan senjata yang diperbarui dalam kesepakatan bulan Juni itu gagal, Iran kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang dituduhnya mencoba melintasi selat tersebut tanpa izin.
Abu Dhabi National Oil Company milik Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan bahwa dua kapalnya diserang saat melintasi selat tersebut pada Kamis malam. Pemerintah UEA menyalahkan Iran, yang tidak segera memberikan komentar.
Baca Juga: Penjualan Ritel AS pada Juli 2026 Turun, Pertama Kali Dalam Sembilan Bulan Terakhir
Dua kapal melewati jalur perairan sempit tersebut pada hari Jumat, menurut analisis dari perusahaan pelacak kapal Kpler: sebuah kapal pengangkut biji-bijian yang memasuki perairan Iran dan sebuah kapal kargo curah kering dalam keadaan kosong yang bergerak ke arah sebaliknya.
Sebuah kapal tanker kosong pengangkut produk minyak bumi cair lainnya sedang berlayar memasuki Teluk melalui selat tersebut, menurut data itu. Tidak ada pengiriman minyak mentah yang terlihat pada hari Jumat.
Sembilan kapal melewati selat tersebut pada hari Kamis, meningkat dari lima kapal pada hari Rabu namun masih di bawah rata-rata 12 kapal untuk bulan Agustus.
Beberapa kapal mungkin melintas tanpa terdeteksi karena mematikan transponder mereka, namun angka-angka tersebut jauh dari jumlah lebih dari 130 kapal yang melintasi Selat Hormuz setiap harinya sebelum perang yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada bulan Februari.
"Selain ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut, kemampuan Iran untuk membatasi pelayaran melalui selat itu merupakan sumber daya tawar utamanya dalam negosiasi," kata Torbjorn Solvedt, analis utama Timur Tengah di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft.
AS Janjikan Langkah Baru Tehadap Iran Dalam Waktu Dekat
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan kepada wartawan bahwa militer AS memiliki kemampuan untuk mempertahankan kehadiran angkatan laut di kawasan tersebut guna menegakkan blokade balasan terhadap Iran, yang telah menimbulkan dampak ekonomi parah bagi negara itu.
"Angkatan Laut Amerika Serikat dapat mempertahankan blokade semacam itu untuk jangka waktu tak terbatas karena kami akan melakukan rotasi kapal keluar-masuk, sebagaimana yang telah dan akan terus kami lakukan," ujar Hegseth kepada wartawan dalam sebuah perjalanan ke Panama.
Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan Amerika Serikat berencana memberikan tekanan finansial lebih lanjut terhadap Iran.
"Nantikan pengumuman lebih lanjut pekan depan karena kami akan menerapkan langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara," ujarnya dalam wawancara di program "Rob Schmitt Tonight" di saluran Newsmax.
Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan di dalam negeri untuk mengakhiri perang yang tidak populer; tingginya harga bahan bakar telah menurunkan tingkat kepuasan publik terhadapnya dan berpotensi menggerus kendali partainya atas Kongres dalam pemilihan paruh waktu bulan November mendatang.
Harga minyak mentah berjangka acuan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) AS sama-sama mengalami kenaikan tipis, masing-masing berada di kisaran $87 dan $81 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Bersiap Catat Kenaikan Mingguan Pasca AS Ancam Blokade Tak Terbatas Iran
Ketergantungan India terhadap minyak mentah Rusia melonjak hingga mencapai rekor tertinggi pada bulan Juli, sementara kilang-kilang minyak di Asia—pelanggan utama bahan bakar dari kawasan Teluk—membeli minyak mentah AS minggu ini demi menjamin pasokan di masa depan.
Trump berulang kali menegaskan bahwa AS memiliki "kendali penuh" atas selat tersebut, jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum perang pecah.
Iran menolak klaim tersebut dan menyatakan tidak akan mengizinkan jalur pelayaran itu dibuka kembali sampai syarat-syaratnya dipenuhi. Syarat-syarat itu mencakup pencabutan sanksi ekonomi dan pelepasan aset-aset Iran yang dibekukan.
Pada hari Kamis, sebuah komite parlemen Iran menyetujui rencana Iran terkait selat tersebut. Aturan tersebut mencakup ketentuan yang melarang transit aset dan peralatan milik AS, Israel, dan negara-negara "bermusuhan" lainnya, demikian dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim.
AS sempat mencabut blokade terhadap pelayaran dan pelabuhan Iran selama satu bulan pada pertengahan Juni, namun kemudian memberlakukannya kembali; langkah ini memutus sumber utama mata uang asing Teheran dan memperparah kerugian akibat serangan masa perang terhadap infrastruktur energinya.
Washington sebelumnya menyatakan akan mencabut blokade terhadap Iran setelah Iran dan Oman—negara yang terletak di kedua sisi selat tersebut—mencapai kesepakatan untuk memulihkan pelayaran komersial.
Pasokan Minyak Menyusut
Trump juga berulang kali mengancam akan meningkatkan serangan militer dan "menghantam Iran dengan keras", meskipun sejauh ini ia menahan diri untuk tidak mengerahkan pasukan darat, merebut pulau-pulau strategis, ataupun membom instalasi desalinasi. Awal pekan ini, Trump mengisyaratkan bahwa ia akan mengandalkan langkah-langkah ekonomi, bukan tindakan militer.
Amerika Serikat telah memperketat sanksi ekonomi terhadap Iran serta individu dan entitas lain yang dituduh membantu negara itu memperoleh senjata, namun kampanye tekanan tersebut belum berhasil membawa Teheran kembali ke meja perundingan.
Baca Juga: Inflasi Final Prancis di Juli Meningkat Jadi 2,1% Secara Tahunan
Laporan mengenai serangan pesawat drone yang dilancarkan kelompok Houthi di Yaman—yang didukung Iran—terhadap kilang minyak Saudi Aramco pada hari Kamis telah memicu kembali kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.
Para ekonom global memprediksi penurunan tajam dalam pertumbuhan ekonomi dunia, serta potensi terjadinya resesi di beberapa wilayah, sembari memperingatkan bahwa dampaknya akan semakin parah jika perang tidak segera diakhiri.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
