Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat (AS) menyatakan siap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran tanpa batas waktu sekaligus memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran. Langkah ini diambil di tengah mandeknya perundingan gencatan senjata, menyusutnya pasokan minyak global, serta meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Angkatan Laut AS memiliki kemampuan untuk mempertahankan kehadiran militer di kawasan tersebut guna menegakkan blokade terhadap Iran, yang disebut telah memberikan dampak ekonomi berat bagi negara itu.
"Angkatan Laut Amerika Serikat dapat mempertahankan blokade seperti itu tanpa batas waktu karena kami akan terus merotasi kapal keluar-masuk, seperti yang telah kami lakukan, dan kami akan terus melanjutkannya," ujar Hegseth kepada wartawan saat kunjungan ke Panama, Kamis (13/8/2026), dikutip Reuters.
Baca Juga: Kota Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Disebut Belum Terima Dana dari FIFA
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan Washington tengah menyiapkan langkah baru untuk memperbesar tekanan finansial terhadap Iran.
"Tunggu saja pengumuman berikutnya pekan depan karena kami akan menerapkan langkah-langkah yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara," katanya dalam wawancara di program Rob Schmitt Tonight di Newsmax.
Iran Gunakan Selat Hormuz sebagai Alat Tekan
Kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni untuk mengakhiri perang kini praktis runtuh. Sebagai respons, Iran berupaya meningkatkan daya tawarnya terhadap Washington dengan mengendalikan akses di Selat Hormuz.
Iran dilaporkan menyerang sejumlah kapal yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut. Sebelum perang pecah pada Februari, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melewati Selat Hormuz.
Pada Kamis malam, dua kapal milik perusahaan energi nasional Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) diserang saat melintasi selat tersebut, menurut laporan kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM. Pemerintah UEA mengecam insiden itu sebagai serangan Iran.
Presiden AS Donald Trump juga menghadapi tekanan politik di dalam negeri untuk mengakhiri perang yang dinilai tidak populer. Kenaikan harga bahan bakar disebut telah menekan tingkat persetujuan publik terhadap pemerintahannya dan berpotensi memengaruhi posisi Partai Republik dalam pemilu sela Kongres pada November mendatang.
Baca Juga: Transfer Enzo Fernandez: Chelsea Pasang Rp2,9 Triliun, Man City Belum Kirim Tawaran
Trump berulang kali menyatakan AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz, namun klaim itu dibantah Iran. Teheran menegaskan jalur pelayaran tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum syarat-syaratnya dipenuhi, termasuk pencabutan sanksi ekonomi dan pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Lalu Lintas Kapal Anjlok
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz terus mengalami penurunan tajam. Pada Selasa, hanya delapan kapal yang melintas, turun dari rata-rata sekitar 12 kapal dalam 10 hari terakhir dan jauh di bawah kisaran 130–140 kapal sebelum perang dimulai.
AS sempat mencabut blokade terhadap pelayaran dan pelabuhan Iran selama satu bulan pada pertengahan Juni. Namun, kebijakan itu kemudian diberlakukan kembali sehingga memutus sumber utama devisa Iran dan memperparah kerugian akibat serangan terhadap infrastruktur energinya selama perang.
Sebelumnya, Washington menyatakan blokade akan dihentikan jika Iran dan Oman, yang berada di kedua sisi Selat Hormuz, mencapai kesepakatan untuk memulihkan pelayaran komersial.
Pasokan Minyak Global Makin Menyusut
Di sisi lain, Trump terus mengancam akan meningkatkan serangan militer dan "menghantam Iran dengan keras". Meski demikian, sejauh ini ia belum mengerahkan pasukan darat maupun mengambil alih pulau-pulau strategis atau membombardir fasilitas desalinasi.
Pekan ini, Trump memberi sinyal bahwa pemerintahannya lebih memilih menggunakan tekanan ekonomi dibandingkan tindakan militer.
Washington telah memperketat sanksi terhadap Iran serta individu dan entitas yang dituduh membantu pengadaan senjata bagi Teheran. Namun, kampanye tekanan tersebut belum berhasil membawa Iran kembali ke meja perundingan.
Dampak konflik kini mulai dirasakan ekonomi global. Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu memperkirakan pasokan minyak dunia akan turun sekitar 4,3 juta barel per hari atau sekitar 4% sepanjang tahun ini.
Baca Juga: Gaji Jumbo CEO Goldman Sachs dan Welltower Jadi Sorotan Investor
Proyeksi tersebut lebih buruk dibandingkan perkiraan satu bulan sebelumnya yang memperkirakan penurunan sebesar 3,7 juta barel per hari.
Harga minyak dunia memang ditutup melemah lebih dari 2% pada Kamis setelah menguat selama sepekan, seiring fokus investor terhadap tanda-tanda pelemahan permintaan global dan lonjakan persediaan minyak mentah AS.
Namun, laporan mengenai serangan drone kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kilang Saudi Aramco kembali memicu kekhawatiran pasar akan meluasnya konflik di kawasan.
Sejumlah ekonom global memperkirakan perang ini akan memangkas pertumbuhan ekonomi dunia secara signifikan, bahkan berpotensi mendorong beberapa wilayah ke jurang resesi jika konflik tidak segera berakhir.
Menanggapi pertanyaan mengenai apakah keputusan mengumumkan gencatan senjata pada April merupakan kesalahan, Hegseth menolak berkomentar.
"Saya tidak akan pernah mengomentari hal itu. Kami melakukan tepat apa yang perlu dilakukan untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," tegasnya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
