Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Industri otomotif China semakin agresif berekspansi ke pasar global di tengah tekanan penjualan di dalam negeri. Penurunan permintaan domestik dan persaingan harga yang berlangsung selama bertahun-tahun mendorong produsen mobil China mempercepat ekspansi ke Eropa hingga Asia Tenggara.
Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan tekanan terhadap produsen otomotif mapan seperti Toyota Motor dan Volkswagen yang harus menghadapi persaingan dari kendaraan listrik China berteknologi tinggi dengan harga yang relatif kompetitif.
Data China Passenger Car Association menunjukkan penjualan mobil di China anjlok 20% secara tahunan menjadi 1,47 juta unit pada Juli 2026. Penurunan tersebut memperpanjang tren pelemahan penjualan domestik menjadi 10 bulan berturut-turut.
Sebaliknya, ekspor kendaraan melonjak 88% menjadi 923.000 unit pada periode yang sama. Meski data tersebut mencakup sejumlah merek non-China yang memproduksi kendaraan di China, tren penurunan penjualan domestik dan pertumbuhan ekspor juga terlihat pada produsen otomotif lokal.
Kepala China Passenger Car Association Cui Dongshu mengatakan pelemahan terbaru dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk tingginya harga bahan bakar yang menekan permintaan kendaraan berbahan bakar bensin serta lemahnya permintaan terhadap sedan kelas pemula.
Baca Juga: Efek Perang Iran, Harga Jual Grosir Jerman Melesat 5,3% di Juli 2026
Ekspansi Global Jadi Kebutuhan Strategis
Kinerja industri otomotif China mencerminkan kondisi ekonomi negara tersebut secara lebih luas. Aktivitas manufaktur dan ekspor yang kuat membantu menopang pertumbuhan ekonomi, sementara sektor properti yang masih lemah dan konsumsi rumah tangga yang lesu membatasi permintaan domestik.
Bagi produsen otomotif, pasar luar negeri pun menjadi saluran yang semakin penting untuk menyerap kapasitas produksi.
"Produsen mobil China memiliki kapasitas manufaktur berlebih, rantai pasok yang sangat kompetitif, produk yang semakin canggih, serta dorongan ekonomi yang kuat untuk mencari pertumbuhan di luar China," ujar Bill Russo, CEO perusahaan konsultan yang berbasis di Shanghai, Automobility.
Menurut dia, ekspansi global "semakin menjadi kebutuhan strategis" bagi produsen otomotif China terkemuka.
Sejumlah perusahaan seperti BYD, Geely dan Chery sebelumnya memang telah memiliki ambisi untuk menjadi pemain otomotif global. Namun, laju ekspansi mereka kini tidak hanya didorong oleh ambisi untuk menguasai pasar internasional, tetapi juga kebutuhan untuk mengatasi lemahnya permintaan domestik.
Penjualan Domestik Turun Setara Pasar Jepang
Pada paruh pertama 2026, penjualan mobil domestik China turun 2,3 juta unit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut mencapai sekitar 20%.
Besarnya penurunan tersebut setara dengan seluruh registrasi mobil baru di Jepang, yang merupakan pasar otomotif terbesar keempat di dunia, selama periode yang sama.
Di sisi lain, ekspor mobil China melonjak 71% pada semester pertama 2026.
Analis HSBC Yuqian Ding memperkirakan permintaan mobil domestik China berpotensi mulai stabil dan bahkan pulih pada akhir Agustus hingga September seiring meningkatnya siklus peluncuran model baru. Namun, dia menilai pemulihan berbentuk V atau pemulihan yang sangat cepat kemungkinan sulit terjadi.
BYD menjadi salah satu contoh produsen yang mampu mengompensasi pelemahan pasar domestik melalui ekspansi internasional. Penjualan domestik BYD turun 35% selama tujuh bulan pertama 2026, tetapi penjualan luar negeri melonjak 79% secara tahunan.
Baca Juga: Parlemen Taiwan Setujui 3 Referendum Termasuk Hukuman Cambuk Pelaku Kejahatan Seksual
Brasil dan Inggris menjadi dua pasar negara tunggal terbesar bagi BYD di luar China pada 2026.
China Mulai Menekan Jepang di Pasar Global
Pertumbuhan ekspor China juga membawa tantangan besar bagi industri otomotif Jepang. Sejak 2023, China telah menjadi eksportir kendaraan terbesar di dunia, menggantikan posisi yang selama ini ditempati Jepang.
Menurut Bill Russo, keunggulan Jepang sebagai eksportir otomotif sebelumnya dibangun melalui efisiensi manufaktur, kualitas produk dan efisiensi bahan bakar.
Namun, keunggulan China saat ini mencakup lebih banyak aspek.
"Keunggulan China saat ini lebih luas, mencakup elektrifikasi, baterai, perangkat lunak, fitur pintar, skala rantai pasok, serta pengembangan produk yang sangat cepat," kata Russo.
Dia menilai kombinasi keunggulan tersebut dapat membuat ekspansi global industri otomotif China memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap persaingan global.
"Gabungan tersebut dapat membuat globalisasi China jauh lebih disruptif," ujarnya.
Pangsa Pasar Mobil China di Eropa Melonjak
Tekanan dari produsen mobil China mulai terlihat jelas di sejumlah pasar utama dunia, termasuk Eropa.
Data Counterpoint Research menunjukkan produsen otomotif Jepang menguasai sekitar 12% pangsa pasar kendaraan penumpang Eropa pada kuartal I 2026. Angka tersebut relatif tidak berubah dibandingkan empat tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, pangsa produsen otomotif China meningkat tajam dari sekitar 3% menjadi 16%. Data registrasi kendaraan menunjukkan peningkatan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan pangsa sejumlah produsen asal Eropa, Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Persaingan semakin ketat di segmen kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Merek China menyumbang hampir seperempat pengiriman kendaraan listrik di Eropa, sedangkan produsen Jepang hanya memiliki pangsa kurang dari 5%.
"Perbedaan yang sebenarnya terdapat pada kendaraan listrik," kata analis riset Counterpoint Research Abhilash Gupta.
"Ini adalah kesenjangan dalam elektrifikasi, bukan sekadar persoalan harga," ujarnya.
Baca Juga: AS Perpanjang Blokade Laut Iran Tanpa Batas, Tekanan Ekonomi Bakal Diperketat
Produsen China Bangun Pabrik di Eropa
Ekspansi produsen otomotif China ke luar negeri juga mulai bergeser dari sekadar ekspor kendaraan menjadi pembangunan fasilitas produksi di pasar tujuan, termasuk Eropa.
Counterpoint Research memperkirakan merek China dapat menguasai lebih dari 20% pasar kendaraan penumpang Eropa secara keseluruhan pada 2030. Di segmen kendaraan listrik, pangsa merek China diproyeksikan mencapai 29%.
Gupta menilai kebijakan tarif dapat memperlambat laju ekspansi produsen China, tetapi tidak akan membalikkan tren tersebut.
"Tarif dapat memperlambat kurva tersebut, tetapi tidak akan membalikkannya," kata Gupta.
Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan peta persaingan industri otomotif global. Ketika permintaan domestik China melemah dan kapasitas produksi tetap besar, produsen otomotif China semakin bergantung pada pasar internasional sebagai sumber pertumbuhan baru.
Bagi Toyota, Volkswagen dan produsen otomotif global lainnya, tantangan tersebut tidak lagi sebatas menghadapi kendaraan listrik China dengan harga murah. Persaingan kini mencakup teknologi baterai, perangkat lunak, fitur kendaraan pintar, efisiensi rantai pasok, hingga kecepatan pengembangan produk.












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
