Sumber: Reuters | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Gedung Putih mengkonfirmasi Presiden Donald Trump akan memberlakukan tarif baru pada hari Rabu (2/4). Meskipun tidak memberikan rincian tarif tersebut, tetapi ini telah membuat bisnis, konsumen dan investor khawatir tentang perang perdagangan global yang semakin intensif.
Trump telah berminggu-minggu menggembar-gemborkan 2 April sebagai "Hari Pembebasan" yang akan menghasilkan bea masuk dramatis sehingga dapat menjungkirbalikkan sistem perdagangan global.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan bahwa tarif timbal balik tarif terhadap negara-negara yang mengenakan bea masuk atas barang-barang AS akan berlaku akan berlaku segera setelah Trump mengumumkannya, sementara tarif impor mobil akan mulai berlaku pada 3 April.
Presiden dari Partai Republik itu telah memberlakukan tarif impor aluminium dan baja dan telah meningkatkan bea masuk untuk semua barang dari Tiongkok. Pengumuman Leavitt mengindikasikan bahwa ia berencana untuk terus maju kali ini.
"Presiden memiliki tim penasihat brilian yang telah mempelajari isu-isu ini selama beberapa dekade, dan kami fokus untuk memulihkan masa keemasan Amerika," katanya dalam sebuah konferensi pers.
Baca Juga: S&P dan Nasdaq Ditutup Menguat, Wall Steet Masih Tertekan Ketidakpastian Trump
Tekad Trump melanjutkan rencana penerapan tarif ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian yang mengikis kepercayaan investor, konsumen dan kepercayaan bisnis.
Menurut Washington Post, para ajudan mempertimbangkan rencana yang akan menaikkan bea masuk produk sekitar 20% dari hampir setiap negara, daripada menargetkan negara atau produk tertentu.
Pemerintah mengantisipasi kebijakan baru tersebut.Bea masuk baru dapat meningkatkan pendapatan lebih dari US$6 triliun.
Sementara itu, Wall Street Journal, mengutip orang-orang yang mengetahui yang mengetahui tentang diskusi tersebut, melaporkan bahwa Perwakilan Dagang AS Perwakilan Dagang AS sedang mempersiapkan opsi untuk tarif menyeluruh pada sebagian negara yang kemungkinan tidak akan setinggi.
Disisi lain, Kanada sendiri telah bersumpah untuk merespons dengan tarifnya sendiri.
"Kami tidak akan merugikan produsen Kanada dan pekerja Kanada relatif terhadap pekerja Amerika," kata Perdana Menteri Mark Carney Carney.
Baca Juga: China, Jepang, dan Korea Selatan Bersatu Lawan Kenaikan Tarif Sepihak Donald Trump?
"Dengan masa-masa yang penuh tantangan ke depan, Perdana Menteri Carney dan Presiden Sheinbaum menekankan pentingnya menjaga daya saing Amerika Utara dengan tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara," kata kantor Carney dalam sebuah pernyataan.
Negara-negara lain juga telah mengancam tindakan balasan, bahkan ketika mereka telah berusaha untuk mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih untuk mencegah upaya tersebut akan berhasil.
Para ekonom Yale University memperingatkan bahwa kebijakannya - tarif yang tinggi - akan menaikkan harga di dalam dan luar negeri dan menghantam ekonomi global. Tarif baru sekitar 20% di atas tarif yang sudah diberlakukan akan membebani rata-rata rumah tangga AS setidaknya sebesar US$3.400.
Tanda-tanda sudah muncul bahwa ekonomi AS kehilangan sebagian momentum karena ketidakpastian yang dipicu oleh kekacauan pendekatan Trump yang kacau dalam pembuatan kebijakan ekonomi.
Para investor yang gelisah telah menjual saham secara agresif selama lebih dari sebulan, menghapus US$ 5 triliun dari nilai saham AS sejak pertengahan Februari.
Wall Street berakhir bervariasi pada hari Selasa dengan investor terjebak dalam ketidakpastian menunggu rincian tarif. Pabrik-pabrik di seluruh dunia, dari Jepang hingga Inggris hingga Amerika Serikat, melihat Amerika Serikat, mengalami kemerosotan aktivitas pada bulan Maret karena bisnis bersiap-siap untuk tarif baru Trump.