Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - KUMAMOTO. Sebuah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang selatan, pada Selasa (28/7/2026), memicu kepanikan di sebuah pusat perbelanjaan sebelum ledakan besar menghancurkan sebagian bangunan tersebut.
Insiden ini menewaskan sedikitnya tiga orang, sementara empat pekerja masih dinyatakan hilang.
Para pekerja dan pengunjung mal mengaku sempat berhasil menyelamatkan diri setelah guncangan gempa. Namun, sekitar satu jam kemudian, ledakan dahsyat terjadi dan mengubah situasi menjadi bencana yang lebih besar.
Ratusan pengunjung dan karyawan yang sebelumnya dievakuasi oleh petugas hanya bisa menyaksikan dengan ngeri ketika ledakan merobek bangunan, memperlihatkan rangka baja gedung dan melemparkan puing-puing hingga ke area parkir.
Tim penyelamat yang awalnya khawatir memasuki lokasi karena risiko runtuhnya bangunan akhirnya berhasil mengevakuasi delapan orang dari reruntuhan pada Rabu dini hari. Dari jumlah tersebut, tiga orang ditemukan meninggal dunia.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok Dua Hari Beruntun, Demam AI Berubah Jadi Aksi Jual Besar
Operator mal, Aeon, menyatakan empat pekerja toko masih belum diketahui keberadaannya. Perusahaan juga tengah menyelidiki kemungkinan kebocoran gas sebagai penyebab ledakan.
Saksi: Ledakan Terasa Seperti Bom
Seorang pemilik salon sekaligus kafe di dekat lokasi, Takateru Sonoda (41), menggambarkan dahsyatnya ledakan tersebut.
"Saya mengira ada bom yang meledak," ujar Sonoda kepada kantor berita Jiji Press.
Ia menambahkan, "Banyak orang berteriak meminta yang lain segera mengungsi dan sirene berbunyi di mana-mana. Jalan-jalan di sekitar lokasi macet total. Situasinya benar-benar panik."
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengatakan proses penyelamatan korban kini menjadi "perlombaan melawan waktu" untuk menyelamatkan mereka yang masih terjebak di dalam mal maupun korban lain akibat gempa.
Sekitar 170 personel militer telah dikerahkan untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi.
Mal Baru Dibuka Kembali Setelah Renovasi Pascagempa 2016
Ironisnya, pusat perbelanjaan terbesar di Prefektur Kumamoto itu baru kembali dibuka bulan lalu setelah menjalani pembangunan ulang besar-besaran sebagai simbol pemulihan dari gempa mematikan yang melanda wilayah tersebut pada 2016.
Setelah mengalami kerusakan parah akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,3 pada April 2016, pengelola mal menonjolkan berbagai peningkatan keamanan, termasuk pemasangan plafon tahan gempa serta penguatan struktur bangunan agar lebih tangguh menghadapi aktivitas seismik.
Baca Juga: Bursa Singapura Pecahkan Rekor Saat Saham Teknologi Asia Dilanda Aksi Jual
Namun, seorang pekerja di salah satu dari sekitar 200 toko di dalam mal mengatakan kepada harian Yomiuri bahwa guncangan gempa Selasa berlangsung sekitar 10 detik dan membuatnya terjatuh hingga berlutut.
Sementara itu, seorang pegawai bioskop berusia 22 tahun mengaku bangunan dipenuhi debu tebal yang membuat situasi semakin membingungkan sesaat setelah gempa terjadi.
Meski dilanda kepanikan, para karyawan segera menjalankan prosedur darurat dengan mengevakuasi lebih dari 200 pengunjung dan pekerja menuju area parkir. Banyak dari mereka kemudian berlindung di dalam kendaraan masing-masing di tengah cuaca musim panas yang sangat terik.
Meski demikian, menurut laporan kantor berita Kyodo yang mengutip keterangan sejumlah pelanggan, beberapa orang sempat kembali memasuki gedung sebelum ledakan terjadi.
Ledakan Timbulkan Asap Tebal
Kazuya Tsurunaga, yang sedang membersihkan piring dan gelas pecah akibat gempa di sebuah restoran sekitar 300 meter dari mal, mengaku terkejut mendengar ledakan tersebut.
"Asap tebal membubung tinggi. Karena saat itu angin bertiup ke arah toko kami, rasanya seperti abu vulkanik berjatuhan di sekitar kami," ujarnya kepada stasiun televisi TBS.
Seorang pejabat kepolisian mengatakan polisi dan petugas pemadam kebakaran tidak dapat langsung memasuki reruntuhan selama beberapa jam pertama setelah ledakan karena khawatir bangunan akan kembali roboh di tengah rangkaian gempa susulan.
Hingga akhir Selasa, tercatat lebih dari 100 gempa susulan terjadi di Kumamoto.
Dugaan Kebocoran Gas Masih Diselidiki
Rekaman video yang diambil seorang polisi yang memasuki lokasi pada Rabu dini hari memperlihatkan sebagian besar plafon bangunan runtuh, bagian depan toko-toko hancur akibat ledakan, serta perabotan berserakan di seluruh lantai.
Juru Bicara Pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengatakan sejumlah petugas penyelamat melaporkan mencium bau gas saat berada di lokasi.
Baca Juga: Laba UBS Melonjak 17% pada Kuartal II-2026, Siapkan Buyback Saham US$ 3 Miliar
Seorang reporter televisi yang melaporkan langsung dari lokasi juga mengatakan kendaraan darurat terus mengimbau masyarakat agar tidak mendekati pusat perbelanjaan karena adanya dugaan kebocoran gas.
Kihara menjelaskan mal tersebut menggunakan LPG (liquefied petroleum gas/gas petroleum cair), yang disimpan dalam tabung berukuran besar, bukan dialirkan melalui jaringan pipa.
Menurut Asosiasi Gas Jepang, sistem distribusi gas melalui pipa akan otomatis menghentikan pasokan jika aktivitas gempa mencapai ambang tertentu atau apabila terdeteksi kerusakan pada jaringan.
Sementara itu, pejabat Asosiasi Penjualan LPG Jepang menjelaskan sistem LPG juga memiliki mekanisme keselamatan serupa. Meteran berbasis mikrokomputer akan secara otomatis memutus aliran gas jika mendeteksi kebocoran atau perubahan tekanan, serta dirancang menghentikan pasokan saat terjadi gempa dengan intensitas 5 atau lebih.
Selain itu, pemasok gas juga dapat menghentikan distribusi dari jarak jauh melalui sistem transmisi radio dalam kondisi darurat.
Aeon menolak memberikan rincian mengenai pemasok gas maupun sistem pengamanan gas yang digunakan di pusat perbelanjaan tersebut.
Dalam pernyataannya, perusahaan menyampaikan, "Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada para korban yang meninggal dunia. Kami juga menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada keluarga korban serta kepada mereka yang mengalami luka-luka."














