kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Genderang Perang Tarif di Hari Pembebasan


Jumat, 04 April 2025 / 02:30 WIB
Genderang Perang Tarif di Hari Pembebasan
ILUSTRASI. Presiden Amerika Serikat Donald Trump. REUTERS/Evelyn Hockstein


Sumber: Reuters | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif impor baru kepada hampir semua negara. Pengumuman besaran tarif impor, yang disebut Trump sebagai 'Hari Pembebasan' tak hanya bisa memicu perang dagang global, namun juga mengguncang ekonomi dunia.

Dalam aturan baru, AS menetap tarif dasar sebesar 10% pada semua negara, kecuali China, Kanada, dan Meksiko yang sebelumnya sudah punya aturan baru terkait bea masuk tambahan. Namun China, dan banyak negara lain, akan menghadapi tambahan tarif timbal balik yang membuat total tarif yang dikenakan melonjak tinggi.

Impor dari China misalnya sebelumnya sudah dikenakan bea masuk sebesar 20%, dan akan dikenakan tarif timbal balik sebesar 34%. Sehingga sehingga secara total menghasilkan pungutan baru sebesar 54%.

Baca Juga: Rusia dan 3 Negara Ini Lolos dari Kebijakan Tarif Trump, Ada Apa?

Tak hanya lawan, teman juga tak luput dari aturan ini. Termasuk Uni Eropa dan Jepang yang menghadapi tarif timbal balik masing-masing 20% dan 24%. Sebagai informasi, tarif dasar akan mulai berlaku pada 5 April dan tarif timbal balik pada 9 April.

Tak butuh waktu lama bagi Beijing untuk merespons dengan menjanjikan aksi balasan. "Tiongkok dengan tegas menentang dan akan dengan tegas mengambil tindakan balasan untuk melindungi hak dan kepentingannya sendiri," tulis Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Reuters.

Sementara, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut tarif Trump sebagai pukulan telak bagi ekonomi dunia dan akan segera berbicara dengan Washington. "Dan kami sedang mempersiapkan tindakan balasan untuk melindungi kepentingan dan bisnis kami jika negosiasi gagal," kata von der Leyen seperti dikutip Bloomberg.

Baca Juga: Kebijakan Tarif Trump Memicu Reaksi Global, Sejumlah Negara Siap Membalas

Menuai kecaman

Kecaman juga datang dari analis hingga pelaku pasar. CEO dari penasihat keuangan global deVere Group, Nigel Green bilang tarif ini akan mendorong inflasi pada ribuan barang kebutuhan sehari-hari, padahal inflasi di sejumlah negara saat ini hampir tak terkendali.

Sementara dalam risetnya, analis JP Morgan menyebut lebih dari sepertiga perusahaan yang ada di pasar negara berkembang akan langsung mengalami dampak besar saat tarif impor AS berlaku.

Tak hanya dari sisi kinerja ekspor yang tersendat, dampak buruk juga akan dirasakan perusahaan tersebut dalam hal beban utang. Pasalnya dengan ancaman resesi global yang kian nyata, premi atau spread obligasi yang diminta investor akan semakin besar sehingga akan meningkatkan beban pendanaan.

Selanjutnya: Ganjil Genap Jakarta Hari Ini Berlaku atau Tidak? (3 April 2025)


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×