Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif dasar baru sebesar 10% untuk semua barang impor, serta tarif balasan terhadap negara-negara yang dianggap memiliki hambatan perdagangan tinggi terhadap produk AS.
Berikut adalah respons dari berbagai negara terkait kebijakan tarif baru ini:
Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 1% Kamis (3/4), Usai Capai Rekor Tertinggi Akibat Tarif Trump
Uni Eropa
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan bahwa Uni Eropa sedang menyelesaikan paket tindakan balasan terhadap tarif baja AS dan "kini sedang mempersiapkan langkah-langkah tambahan untuk melindungi kepentingan serta bisnis kami jika negosiasi menemui jalan buntu." Trump menetapkan tarif balasan 20% terhadap UE.
Komisioner Perdagangan UE Maros Sefcovic mengatakan ia akan berdiskusi dengan mitra AS pada hari Jumat dan mengalokasikan waktu yang cukup untuk negosiasi lebih lanjut.
"Namun, kami tidak akan tinggal diam jika tidak dapat mencapai kesepakatan yang adil," tegasnya.
China
Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa Beijing "dengan tegas menentang" tarif balasan ini dan "akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi hak serta kepentingan kami," setelah Trump menetapkan tarif balasan 34% terhadap China.
Baca Juga: Negara Asia Tenggara Terguncang Tarif Trump, Vietnam dan Thailand Siapkan Negosiasi
Jepang
Menteri Perdagangan Jepang, Yoji Muto, menyebut tarif balasan sebagai "sangat disesalkan" dan mengatakan bahwa Tokyo akan mendesak AS untuk mengecualikan Jepang dari kebijakan ini.
"Jepang akan mempertimbangkan respons kami dengan cara yang berani dan cepat," ujarnya. Jepang menghadapi tarif balasan sebesar 24%.
Jerman
Menteri Ekonomi Jerman, Robert Habeck, mengatakan, "Donald Trump tunduk pada tekanan dan mengoreksi pengumumannya di bawah tekanan, tetapi konsekuensi logisnya adalah bahwa ia juga harus merasakan tekanan itu—dan tekanan ini harus datang dari Jerman serta Eropa."
Baca Juga: Mata Uang Rupiah Semakin Tertekan Akibat Tarif Terbaru Trump
Singapura
Menteri Perdagangan dan Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong, mengatakan bahwa negaranya tidak akan mengambil langkah balasan terhadap tarif dasar 10%, meskipun memiliki opsi tersebut berdasarkan Perjanjian Perdagangan Bebas AS-Singapura.
“Kami memutuskan untuk tidak melakukannya karena menerapkan tarif balasan hanya akan menambah biaya pada impor kami dari AS,” jelasnya.
Kanada
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyatakan bahwa negaranya "akan melawan tarif ini dengan tindakan balasan" dan akan "bertindak dengan tujuan dan kekuatan."
Saat ini, barang-barang dari Kanada dan Meksiko tidak dikenakan tarif balasan karena tarif 25% terkait fentanyl masih berlaku, bersama dengan tarif 10% untuk energi dan potash Kanada.
Sementara itu, pengecualian tarif untuk barang yang sesuai dengan Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA) akan tetap berlaku tanpa batas waktu.
Baca Juga: Trump Kenakan Tarif Impor 32% untuk Indonesia, Begini Respons ALFI
Meksiko
Presiden Claudia Sheinbaum menyatakan bahwa Meksiko tidak akan menerapkan "tit-for-tat" atau aksi balasan setimpal terhadap tarif ini, melainkan akan mengumumkan "program komprehensif" sebagai respons pada hari Kamis.
Inggris
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa negaranya akan tetap bekerja menuju perjanjian dagang dengan AS dan bahwa perang dagang "bukan kepentingan nasional kami."
Namun, ia menegaskan bahwa "tidak ada yang dikecualikan dari meja perundingan" dalam menanggapi kebijakan ini.
Inggris, yang terkena tarif 10%, telah menerbitkan daftar indikatif barang-barang yang berpotensi masuk dalam kebijakan balasan tarifnya.
Baca Juga: Trump Kenakan Tarif Impor Tambahan 32%, DPR: Alarm Serius Bagi Ekonomi Indonesia
Korea Selatan
Presiden sementara Korea Selatan Han Duck-soo memerintahkan tindakan darurat untuk mendukung bisnis yang terdampak, terutama di sektor otomotif, setelah Trump menetapkan tarif 25% terhadap Korea Selatan.
Australia
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa negaranya akan bernegosiasi dengan AS untuk menghapus tarif tanpa menggunakan mekanisme penyelesaian sengketa dalam Perjanjian Perdagangan Bebas kedua negara.
Ia menegaskan bahwa pemerintahnya tidak akan menerapkan tarif balasan karena langkah tersebut akan meningkatkan harga bagi rumah tangga Australia.
“Kami tidak akan ikut serta dalam perlombaan menuju kehancuran yang hanya akan membawa harga lebih tinggi dan pertumbuhan lebih lambat,” kata Albanese.
Baca Juga: Indonesia Kena Tarif Trump 32%, Ekonom: Ini Sikap Unilateralisme Pragmatis dan Brutal
Brasil
Pemerintah Brasil, yang dikenakan tarif 10% oleh Trump, menyatakan bahwa pihaknya "sedang mengevaluasi semua kemungkinan tindakan untuk memastikan keseimbangan dalam perdagangan bilateral, termasuk membawa kasus ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).”
Sebelumnya pada hari yang sama, Kongres Brasil menyetujui undang-undang yang memungkinkan negara tersebut merespons tindakan perdagangan sepihak, termasuk dengan memberlakukan tarif balasan.
Israel
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengatakan bahwa ia sedang mengumpulkan pejabat kementerian untuk merancang strategi guna melindungi ekonomi Israel dari dampak tarif baru 17% yang dikenakan oleh Trump.