Sumber: foxnews | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Para pemimpin Greenland menolak keras seruan Presiden AS Donald Trump yang kembali mendorong Amerika Serikat untuk mengambil alih pulau tersebut. Sejumlah pejabat pemerintahan Trump mendukung gagasan pengambilalihan Greenland, dengan alasan utama keamanan nasional.
“Kami tidak ingin menjadi warga Amerika, kami tidak ingin menjadi warga Denmark, kami ingin menjadi warga Greenland,” kata Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen bersama empat pemimpin partai dalam sebuah pernyataan pada Jumat malam, sebagaimana dikutip The Associated Press.
Greenland, wilayah otonom Denmark dan sekutu lama Amerika Serikat, berulang kali menolak pernyataan Trump mengenai rencana AS untuk menguasai pulau tersebut.
Para pemimpin partai Greenland menegaskan kembali bahwa “masa depan Greenland harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri.”
“Sebagai para pemimpin partai Greenland, kami ingin kembali menegaskan harapan kami agar sikap tidak menghormati Amerika Serikat terhadap negara kami segera berakhir,” demikian isi pernyataan tersebut seperti yang dilansir Fox News.
Trump ditanya mengenai dorongan untuk mengakuisisi Greenland pada Jumat lalu dalam sebuah diskusi meja bundar dengan para eksekutif minyak. Presiden yang sejak lama menyatakan Greenland sangat penting bagi keamanan AS itu mengatakan langkah tersebut perlu dilakukan agar Amerika tidak kalah cepat dari para pesaingnya.
“Kami akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak,” ujar Trump pada Jumat. “Karena jika kami tidak melakukannya, Rusia atau China akan mengambil alih Greenland, dan kami tidak akan membiarkan Rusia atau China menjadi tetangga kami.”
Baca Juga: China Kuasai 87% Mineral Kritis, Mengapa Negara G7 Masih Lambat Bergerak?
Trump pada Jumat juga menjamu hampir dua lusin eksekutif minyak di Gedung Putih untuk membahas investasi di Venezuela, menyusul penangkapan bersejarah Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari.
“Kami tidak ingin Rusia berada di sana,” kata Trump tentang Venezuela ketika ditanya apakah negara itu tampak sebagai sekutu AS. “Kami tidak ingin China berada di sana. Dan, omong-omong, kami juga tidak ingin Rusia atau China masuk ke Greenland, karena jika kami tidak mengambil Greenland, Rusia atau China bisa menjadi tetangga Anda. Itu tidak akan terjadi.”
Trump mengatakan Amerika Serikat kini mengendalikan Venezuela setelah penangkapan dan ekstradisi Maduro.
Sebelumnya, Nielsen menolak perbandingan antara Greenland dan Venezuela, dengan menyatakan bahwa Greenland justru ingin memperbaiki hubungannya dengan Amerika Serikat, menurut Reuters.
Baca Juga: BRICS Plus Mulai 'Permainan Perang', Ini Tiga Alasan India Menghindar
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pada Senin mengatakan bahwa ancaman Trump untuk mencaplok Greenland dapat berarti berakhirnya Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
“Saya juga ingin menegaskan bahwa jika Amerika Serikat memilih menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berhenti. Termasuk NATO kami dan dengan demikian sistem keamanan yang telah ada sejak berakhirnya Perang Dunia II,” ujar Frederiksen kepada stasiun televisi Denmark TV2.
Pada hari yang sama, Nielsen mengatakan dalam pernyataan yang diunggah di Facebook bahwa Greenland bukan objek retorika negara adidaya.
Wakil kepala staf Gedung Putih untuk kebijakan, Stephen Miller, memperkuat pernyataan Trump dengan mengatakan kepada CNN pada Senin bahwa Greenland “seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat.”
Tonton: Trump Mulai Bahas Caplok Greenland, Militer AS Jadi Opsi
Pembawa acara CNN Jake Tapper menekan Miller dengan pertanyaan apakah pemerintahan Trump bisa mengesampingkan kemungkinan aksi militer terhadap pulau Arktik tersebut.
“Amerika Serikat adalah kekuatan utama NATO. Agar Amerika Serikat dapat mengamankan kawasan Arktik, melindungi dan mempertahankan NATO serta kepentingan NATO, maka jelas Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat,” kata Miller.













