kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.889   19,00   0,11%
  • IDX 8.948   63,58   0,72%
  • KOMPAS100 1.240   13,93   1,14%
  • LQ45 879   12,32   1,42%
  • ISSI 327   2,65   0,82%
  • IDX30 449   8,13   1,84%
  • IDXHIDIV20 531   10,57   2,03%
  • IDX80 138   1,59   1,17%
  • IDXV30 147   2,50   1,73%
  • IDXQ30 144   2,26   1,60%

Hamas Bersiap Pilih Pemimpin Baru, Meshaal dan Al-Hayya Jadi Kandidat Kuat


Selasa, 13 Januari 2026 / 21:31 WIB
Hamas Bersiap Pilih Pemimpin Baru, Meshaal dan Al-Hayya Jadi Kandidat Kuat
ILUSTRASI. Kelompok Hamas diperkirakan akan memilih pemimpin baru pada bulan ini, menurut dua sumber internal yang berbicara kepada Reuters. ( REUTERS/Alkis Konstantinidis)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kelompok Hamas diperkirakan akan memilih pemimpin baru pada bulan ini, menurut dua sumber internal yang berbicara kepada Reuters.

Pemilihan ini dilakukan untuk mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan sejak Israel menewaskan Yahya Sinwar pada 2024, meskipun ada kekhawatiran bahwa penggantinya berpotensi menghadapi nasib serupa.

Nama Khalil Al-Hayya dan Khaled Meshaal disebut-sebut sebagai kandidat terdepan untuk memimpin kelompok Islamis militan tersebut pada momen krusial.

Hamas saat ini tengah tertekan akibat dua tahun perang yang dipicu serangan lintas batas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel, serta menghadapi tuntutan internasional agar melucuti senjata.

Baca Juga: Kelompok Bersenjata Pro-Israel Tewaskan Perwira Polisi Hamas di Gaza Selatan

Kedua tokoh itu bermukim di Qatar dan menjadi anggota dewan lima orang yang memimpin Hamas sejak Israel membunuh Sinwar, yang dikenal sebagai otak serangan 7 Oktober. Pendahulu Sinwar, Ismail Haniyeh, juga tewas dibunuh Israel saat melakukan kunjungan ke Iran pada 2024.

Sumber-sumber tersebut menyebutkan bahwa proses pemilihan telah dimulai. Pemimpin Hamas dipilih melalui pemungutan suara rahasia oleh Dewan Syura

Hamas, sebuah badan beranggotakan 50 orang yang mencakup kader Hamas di Tepi Barat yang diduduki Israel, Jalur Gaza, serta di pengasingan. Seorang juru bicara Hamas menolak memberikan komentar.

Hamas Hadapi Tantangan Berat

Selain memilih pemimpin baru, Hamas juga akan memilih wakil pemimpin untuk menggantikan Saleh Al-Arouri, yang tewas akibat serangan udara Israel di Lebanon pada 2024.

Sumber yang dekat dengan Hamas mengatakan kelompok itu bertekad menuntaskan pemungutan suara, meski sebagian pihak menginginkan perpanjangan kepemimpinan kolektif.

Para pengamat Hamas menilai Meshaal berasal dari faksi pragmatis yang memiliki hubungan baik dengan negara-negara Muslim Sunni, sementara Al-Hayya—yang dikenal sebagai negosiator utama Hamas—dipandang mewakili kubu yang mempererat hubungan dengan Iran.

Hamas menghadapi salah satu periode tersulit sejak didirikan pada 1987. Meski pertempuran di Gaza sebagian besar mereda sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober, Israel masih menguasai hampir separuh wilayah pesisir tersebut.

Baca Juga: Israel dan Hamas Saling Tuduh Tunda Fase Kedua Rencana Perdamaian AS di Gaza

Serangan sporadis terus terjadi, dan kondisi bagi sekitar 2 juta penduduk Gaza tetap memprihatinkan.

Kelompok ini juga menuai kritik dari warga Gaza akibat dampak besar perang, yang menghancurkan sebagian besar wilayah dan menewaskan lebih dari 71.000 orang, menurut otoritas kesehatan Gaza.

Dalam serangan 7 Oktober, militan yang dipimpin Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik 251 lainnya di Israel.

Rencana gencatan senjata Gaza yang diajukan Presiden AS Donald Trump menuntut Hamas melucuti senjata dan memproyeksikan Gaza dikelola oleh pemerintahan teknokrat Palestina di bawah pengawasan badan internasional bernama Board of Peace.

Meshaal dan Al-Hayya Pernah Menjadi Target Israel

Hingga kini, Hamas menolak melucuti senjata dengan alasan isu perlawanan bersenjata harus dibahas secara luas oleh seluruh faksi Palestina. Hamas juga menyatakan siap menyerahkan senjatanya kepada negara Palestina di masa depan—sebuah hasil yang telah dikesampingkan oleh Israel.

Hamas dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat. Al-Hayya, yang lahir di Gaza, termasuk di antara pemimpin Hamas yang menjadi target serangan udara Israel di Qatar pada September lalu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemudian menyampaikan penyesalan kepada Emir Qatar—sekutu AS—dalam panggilan tiga pihak bersama Trump, serta menegaskan Israel tidak akan mengulangi serangan semacam itu, menurut Gedung Putih saat itu.

Sementara itu, Meshaal sebelumnya memimpin Hamas hampir dua dekade. Agen Israel pernah berupaya membunuhnya di Yordania pada 1997 dengan menyuntikkan racun.

Baca Juga: Israel Klaim Telah Membunuh Seorang Komandan Hamas di Gaza

Hubungannya dengan Iran sempat memburuk pada 2012 ketika ia menjauhkan Hamas dari sekutu Suriah Teheran, Presiden Bashar al-Assad yang kini telah lengser, pada awal gelombang Arab Spring.

Hamas didirikan sebagai cabang Palestina dari Ikhwanul Muslimin dan merupakan rival utama gerakan nasional Fatah yang dipimpin Presiden Palestina Mahmoud Abbas, berusia 90 tahun.

Piagam pendirian Hamas menyerukan penghancuran Israel, meskipun para pemimpinnya sesekali menawarkan gencatan senjata jangka panjang dengan imbalan negara Palestina yang layak di seluruh wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak perang 1967. Israel memandang pendekatan tersebut sebagai tipu daya.

Analis Reham Owda menilai perbedaan antara Al-Hayya dan Meshaal terkait konflik dengan Israel relatif terbatas. Namun, ia meyakini Meshaal memiliki peluang lebih besar karena dinilai mampu “memasarkan (Hamas) secara internasional dan membantu membangun kembali kapabilitasnya.”

Selanjutnya: Astra Daihatsu Buka Lowongan D3: Peluang Emas di HRD Administration

Menarik Dibaca: Kolaborasi NIVEA–Grab Sabet Dua Penghargaan di MMA SMARTIES APAC 2025




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×