Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin (3/8/2026) seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.
Prospek kesepakatan tersebut turut memicu penurunan tajam harga minyak, sehingga meredakan kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan.
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,2% menjadi US$ 4.048,84 per ons troi pada pukul 10.42 GMT (17:42 WIB). Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga menguat 0,2% ke level US$ 4.048,80 per ons troi.
Kenaikan ini memperpanjang tren positif emas setelah logam mulia tersebut mencatat kenaikan bulanan pertama dalam lima bulan terakhir pada Juli, dengan penguatan sekitar 1%.
Baca Juga: China Borong 800.000 Ton Kedelai AS, Manfaatkan Penurunan Harga
Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh anjloknya harga minyak lebih dari US$ 4 per barel. Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menunda serangan baru terhadap Iran demi membuka peluang tercapainya kesepakatan yang bertujuan menghentikan ambisi nuklir Teheran sekaligus membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran akan berlangsung pada Senin, namun tidak menetapkan batas waktu untuk mencapai kesepakatan. Di sisi lain, Iran menyatakan hingga kini belum ada pembicaraan yang berlangsung dengan Amerika Serikat.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan hubungan antara harga emas dan minyak kembali terlihat jelas.
"Kita kembali melihat korelasi sebelumnya, yakni harga emas naik ketika harga minyak mentah turun, dan emas melemah ketika harga minyak naik. Penurunan harga minyak saat ini sedikit mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada tahun ini, sehingga mendukung kenaikan harga emas," ujar Staunovo.
Harga minyak yang tinggi umumnya meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong suku bunga lebih tinggi. Kondisi tersebut cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Baca Juga: Flu Burung H5N1 Mulai Sebar di Satwa Liar Australia, Puluhan Burung Laut Mati
Selain itu, pelemahan dolar AS turut memberikan dukungan bagi harga emas. Indeks dolar turun ke level terendah sejak pertengahan Juni setelah otoritas Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami penurunan.
Pelaku pasar kini menantikan serangkaian data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini, termasuk laporan tenaga kerja ADP dan data nonfarm payrolls, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS.
"Jika pasar tenaga kerja AS melemah, The Fed akan memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tetap pada tahun ini. Hal itu akan menjadi sentimen positif bagi emas karena pasar akan semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga tahun ini," kata Staunovo.
Meski demikian, tiga pejabat Federal Reserve yang berbeda pendapat dalam rapat kebijakan pekan lalu dan mendukung kenaikan suku bunga menyampaikan kekhawatiran pada Jumat (31/7/2026). Mereka menilai tanpa kenaikan suku bunga jangka pendek dalam waktu dekat, inflasi berisiko tetap bertahan di atas target 2% yang ditetapkan The Fed.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,5% menjadi US$ 57,93 per ons troi. Harga platinum menguat 0,1% ke US$ 1.643,46 per ons troi, sementara palladium bergerak stabil di level US$ 1.273,12 per ons troi.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
