Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas diperkirakan berpeluang mencetak rekor baru seiring kembalinya minat beli investor. Menurut para analis, permintaan investasi dan pembelian oleh bank sentral dinilai akan menjadi pendorong utama, sementara koreksi harga dalam dua sesi terakhir justru menarik para pemburu harga murah (bargain hunters).
Reuters melaporkan, emas mencatatkan potensi kenaikan harian terbesar sejak 2008 pada Selasa, setelah sebelumnya mengalami aksi jual besar selama dua hari. Aksi jual tersebut dipicu oleh penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve oleh Presiden Donald Trump, penguatan dolar AS, serta aksi ambil untung investor.
“Kondisi inflasi masih jauh di atas target, tingkat utang terus meningkat, dan investor tetap melihat logam mulia sebagai sarana diversifikasi dari saham, obligasi, dan mata uang fiat,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities.
UBS dan JP Morgan memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 6.200–US$ 6.300 per ons troi pada akhir tahun. Sementara itu, Deutsche Bank memproyeksikan harga emas di level US$ 6.000 tahun ini. Citi mempertahankan proyeksi dasar untuk 2026, dengan rata-rata harga kuartal pertama diperkirakan di US$ 5.000 per ons.
Harga emas spot tercatat naik 5,4% ke level US$ 4.915 per ons troi pada pukul 10.54 GMT.
Baca Juga: Apple TV Tetapkan Oktober sebagai Jadwal Tayang Film Mobil Mainan Mattel Matchbox
Pasar Fisik Jadi Perhatian Utama
Emas dan perak sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi masing-masing di US$ 5.594,8 dan US$ 121,6 per ons pada 29 Januari, sebelum kemudian terkoreksi. Penurunan emas sebesar 9,8% pada Jumat menjadi penurunan harian terbesar dalam 43 tahun, menurut data LSEG.
Para analis menilai penurunan tersebut sebagai koreksi yang sehat.
“Pasar fisik akan menjadi kunci dalam menentukan batas bawah harga, terutama setelah perayaan Tahun Baru Imlek,” kata analis Standard Chartered, Suki Cooper, merujuk pada libur Tahun Baru China yang berlangsung mulai pertengahan Februari.
Permintaan investasi, termasuk dari investor ritel, kini menjadi faktor penting di balik penguatan emas, sementara sektor lain seperti permintaan perhiasan dan pembelian oleh bank sentral cenderung melambat.
“Kami memperkirakan harga akan tetap volatil, meskipun kondisi untuk kenaikan lebih lanjut masih terbuka lebar tahun ini,” kata Philip Newman, direktur di konsultan Metals Focus. Ia menambahkan, harga emas berpotensi menembus level US$ 5.500.
Baca Juga: Ringgit Perkasa Terhadap Dolar AS dan Mata Uang ASEAN, Ini Pemicunya
Volatilitas juga terlihat lebih tajam pada perak, mengingat ukuran pasar yang lebih kecil. Harga perak sempat turun dari rekor tertinggi US$ 121,6 per ons pada Kamis lalu. Reli perak pada Januari sebelumnya didorong oleh perdagangan berbasis momentum serta arus masuk besar dari investor ritel.
Harga perak terakhir tercatat naik 9,3% ke level US$ 86,8 per ons.
Analis Mitsubishi menyebut, meredanya kekhawatiran terhadap tarif AS setelah tinjauan mineral kritis pada pertengahan Januari, serta berkurangnya pasokan di London, membuat perak kehilangan salah satu pendorong utama kenaikan tahun lalu.
Tonton: Pramono Janji Perayaan Imlek di Jakarta Bakal Meriah dan Tampil Colourful
Meski begitu, penurunan harga perak dari level rekor dinilai positif bagi prospek konsumsi industri, karena tekanan ekstrem terhadap margin produsen panel surya menjadi berkurang, menurut para analis.













