Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas turun ke level terendah dalam lebih dari dua pekan pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Pelemahan harga emas dipengaruhi kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS.
Pelaku pasar kini menanti sejumlah data ketenagakerjaan AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Hampir 1% Rabu (2/9), Konflik AS-Iran Ganggu Pasokan
Melansir Reuters, harga emas spot stabil di sekitar US$ 4.333,49 per ons troi pada pukul 00.17 GMT, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 14 Agustus 2026.
Harga emas juga diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari atau 200-day moving average, yang menjadi salah satu indikator teknikal yang diperhatikan pelaku pasar.
Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun 0,4% menjadi US$ 4.380,40 per ons troi.
Penguatan dolar AS turut memberikan tekanan terhadap harga emas. Dolar yang lebih kuat membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Di sisi lain, yield US Treasury meningkat di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.
Kenaikan suku bunga dan yield obligasi cenderung menekan daya tarik emas karena aset safe haven tersebut tidak memberikan imbal hasil atau yield.
Baca Juga: Putin, Xi Jinping dan Donald Trump Berpotensi Bertemu di KTT APEC November
Konflik AS-Iran Jadi Perhatian
Tekanan terhadap pasar emas juga terjadi ketika konflik antara AS dan Iran kembali meningkat.
AS melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Iran pada Selasa (1/9), yang kemudian dibalas oleh Iran.
Eskalasi tersebut menjadi salah satu yang paling serius dalam beberapa pekan terakhir dan telah mendorong kenaikan harga energi global.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sehingga dapat memengaruhi keputusan The Fed terkait suku bunga.
Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan bahwa apabila inflasi tidak segera mereda, sudah waktunya bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Inflasi Korea Selatan Naik Jadi 3,1% pada Agustus 2026, di Bawah Ekspektasi
Data Tenaga Kerja AS Ditunggu
Pelaku pasar kini menunggu laporan ketenagakerjaan AS yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja sekaligus arah kebijakan moneter The Fed.
Laporan ADP employment dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu AS. Sementara data yang lebih penting, yakni nonfarm payrolls, akan dirilis pada Jumat.
Data sebelumnya menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS meningkat pada Juli, terutama didorong lonjakan lowongan di sektor manufaktur.
Namun, lemahnya perekrutan tenaga kerja menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih berada dalam kondisi relatif stagnan.
Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed menjadi faktor penting bagi pergerakan emas. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya meningkatkan biaya peluang memegang emas sehingga dapat menekan permintaan terhadap logam mulia tersebut.
Baca Juga: Obligasi Global Tertekan, Harga Minyak Melonjak Usai Serangan AS ke Iran
Harga Perak dan Logam Mulia Lain
Sementara itu, harga logam mulia lainnya bergerak bervariasi.
Harga perak spot naik tipis 0,1% menjadi US$ 64,31 per ons troi.
Harga platinum turun 0,2% menjadi US$ 1.736,93 per ons troi, sedangkan palladium melemah 0,2% menjadi US$ 1.308,25 per ons troi.
Pergerakan logam mulia dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi data ekonomi AS, terutama laporan ketenagakerjaan, perkembangan inflasi, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.














