Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas turun tipis pada Kamis (18/6/2026), tertekan oleh sinyal kebijakan agresif dari Federal Reserve dan dolar yang lebih kuat. Sementara kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang meredakan kekhawatiran inflasi dan menurunkan pasar minyak memberikan tekanan pada harga.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.249,16 per ons pada pukul 09.07 ET (1307 GMT). Harga menyentuh titik terendah sejak November 2025 pekan lalu.
Kontrak emas berjangka AS turun 2,6% menjadi US$ 4.268,40.
"Hal yang paling signifikan adalah kecenderungan hawkish oleh The Fed kemarin. Itu membuat dolar mencapai level tertinggi baru tahun ini, yang membuat emas tetap berada di bawah tekanan," kata Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals.
Baca Juga: Israel Rilis Peta Pendudukan Lebanon Baru, Bahas Penempatan Pasukan dengan AS
The Fed mempertahankan suku bunga tetap pada hari Rabu, tetapi sembilan dari 19 pembuat kebijakan melihat perlunya kenaikan suku bunga di akhir tahun.
Dolar AS menguat setelah pernyataan kebijakan dan saat ini berada pada level tertinggi dalam satu tahun, membuat emas batangan yang dihargai dolar AS menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Pasar sekarang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS sebesar 88% pada bulan Desember, menurut CME FedWatch Tool. Ini lebih tinggi daripada peluang 61% yang terlihat sebelum pernyataan kebijakan Fed.
Harga emas telah berada di bawah tekanan sejak awal konflik di Timur Tengah, karena kenaikan biaya bahan bakar memicu kekhawatiran inflasi.
Baca Juga: Permintaan Tetap Kuat, OPEC Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan minyak Global
AS dan Iran merilis teks perjanjian sementara yang ditandatangani presiden mereka untuk mengakhiri perang mereka pada hari Rabu.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan dan membunuh pejabat Iran jika mereka gagal menghormati komitmen mereka.












