kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   -30.000   -1,10%
  • USD/IDR 17.869   80,00   0,45%
  • IDX 6.172   -48,40   -0,78%
  • KOMPAS100 818   -6,94   -0,84%
  • LQ45 617   -8,31   -1,33%
  • ISSI 211   -1,14   -0,54%
  • IDX30 349   -5,96   -1,68%
  • IDXHIDIV20 427   -9,63   -2,21%
  • IDX80 93   -0,82   -0,87%
  • IDXV30 114   -1,07   -0,93%
  • IDXQ30 111   -2,80   -2,45%

Israel Rilis Peta Pendudukan Lebanon Baru, Bahas Penempatan Pasukan dengan AS


Kamis, 18 Juni 2026 / 21:20 WIB
Israel Rilis Peta Pendudukan Lebanon Baru, Bahas Penempatan Pasukan dengan AS
ILUSTRASI. Israel tetap bersikukuh pertahankan pasukan di Lebanon selatan, abaikan tekanan AS. Strategi zona penyangga jadi kunci. (REUTERS/Rami Shlush)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JERUSALEM. Israel kembali menjadi sorotan internasional setelah militer negara tersebut merilis peta baru yang menunjukkan perluasan zona kendali pasukannya di Lebanon selatan. Langkah ini memicu perhatian global di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat terkait strategi militer di kawasan tersebut.

Pemerintah Israel juga disebut tengah melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat mengenai kelanjutan pengerahan pasukan di wilayah Lebanon selatan, meski terdapat tekanan diplomatik untuk mengurangi eskalasi konflik.

Peta Baru Israel Tunjukkan Perluasan Zona Militer

Militer Israel merilis peta yang memperlihatkan area kendali baru di Lebanon selatan yang ditandai sebagai zona keamanan operasi. Area tersebut kini mencakup wilayah yang lebih dalam, termasuk dekat kota Nabatieh di utara Sungai Litani.

Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut wilayah tersebut sebagai: “Zona keamanan tempat tentara IDF (Angkatan Pertahanan Israel) beroperasi di Lebanon selatan.”

Langkah ini memperluas cakupan operasi militer yang sebelumnya hanya difokuskan pada zona penyangga di perbatasan.

Baca Juga: Inggris Akan Kirim 150.000 Drone kepada Ukraina dalam Paket Bantuan Militer Baru

Latar Belakang Konflik dan Operasi Militer

Israel Defense Forces sebelumnya telah melakukan invasi ke Lebanon selatan sejak Maret sebagai respons atas serangan roket dari kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran.

Sejak itu, pertempuran di wilayah perbatasan terus berlangsung. Serangan Israel dilaporkan telah menyebabkan kehancuran sejumlah desa serta memicu krisis pengungsian besar-besaran di Lebanon selatan. Di sisi lain, Hezbollah juga terus melancarkan serangan balasan, termasuk penggunaan drone peledak yang menargetkan posisi militer Israel.

Pembicaraan Israel–AS dan Ketegangan Diplomatik

Dua pejabat Israel, termasuk salah satu pejabat senior dekat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyebut bahwa pembicaraan dengan Amerika Serikat masih berlangsung terkait keberlanjutan kehadiran militer Israel di Lebanon selatan.

Pejabat tersebut menggambarkan diskusi itu sebagai: “Keras kepala.”

Di sisi lain, kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Israel–Iran yang diumumkan pada Rabu menyerukan penghentian pertempuran di semua front, termasuk Lebanon, serta penegasan prinsip: “Integritas teritorial dan kedaulatan Lebanon.”

Baca Juga: Klaim Pengangguran Mingguan AS Turun di Tengah Rendahnya PHK

Perbedaan Sikap Israel dan Amerika Serikat

Ketegangan juga meningkat antara Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait implementasi kesepakatan tersebut.

Pemerintah Israel menilai perjanjian itu belum cukup kuat dalam menjawab kekhawatiran mereka terhadap program nuklir Iran dan pembatasan terhadap operasi militer di Lebanon.

Sementara itu, Trump disebut mengkritik taktik militer Israel di Lebanon, termasuk penggunaan serangan terhadap gedung-gedung di area pemukiman dalam operasi melawan Hezbollah.

Sikap Israel: Tetap Bertahan di Lebanon Selatan

Meski mendapat tekanan internasional, Israel menegaskan tidak akan menarik pasukan dari Lebanon selatan. Dua pejabat Israel menyebut posisi tersebut tetap tidak berubah.

Salah satu pejabat bahkan menyatakan bahwa hasil negosiasi akan bergantung pada apakah Trump:

“memutuskan untuk memaksakan isu ini dengan ancaman konsekuensi jika Israel tidak mematuhi ketentuan kesepakatan sementara.”

Namun hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa kritik Trump akan berubah menjadi tindakan konkret seperti penghentian bantuan militer atau perlambatan pengiriman senjata ke Israel.

Baca Juga: Permintaan Tetap Kuat, OPEC Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan minyak Global

Zona Penyangga sebagai Strategi Keamanan Israel

Israel menyebut wilayah yang mereka kuasai di Lebanon, Gaza, dan Suriah sebagai “zona penyangga” yang dianggap penting dalam strategi keamanan nasional.

Pendekatan ini menjadi bagian dari doktrin militer Israel dalam menciptakan area buffer antara wilayahnya dan kelompok bersenjata yang dianggap sebagai ancaman.

Analisis: Celah dalam Kesepakatan dan Masa Depan Konflik

Menurut peneliti dari Bar-Ilan University, Jonathan Rynhold, kesepakatan antara Israel dan Iran masih menyisakan ruang interpretasi.

Ia menyebut bahwa referensi terhadap kedaulatan Lebanon mengindikasikan kemungkinan penarikan pasukan Israel, namun di sisi lain juga menyiratkan bahwa Hezbollah tidak boleh mempertahankan senjata yang dianggap mengancam stabilitas negara.

Dengan situasi yang masih dinamis, masa depan operasi militer Israel di Lebanon selatan diperkirakan akan sangat bergantung pada tekanan diplomatik Amerika Serikat serta perkembangan konflik di lapangan.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×