Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berpotensi menggelar pertemuan trilateral pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) yang berlangsung November mendatang.
Hal tersebut disampaikan ajudan Kremlin, Yuri Ushakov, pada Selasa (1/9/2026). Menurut dia, kemungkinan pertemuan ketiga pemimpin tersebut telah dibahas.
Baca Juga: Inflasi Korea Selatan Naik Jadi 3,1% pada Agustus 2026, di Bawah Ekspektasi
Ketika ditanya televisi pemerintah Rusia mengenai kemungkinan pertemuan trilateral Putin, Xi dan Trump, Ushakov mengatakan bahwa isu tersebut memang telah dibicarakan.
"Masalah ini telah dibahas, ya," ujar Ushakov dalam siaran televisi pemerintah Rusia.
Ushakov mengatakan, ketiga pemimpin tersebut diperkirakan menghadiri KTT APEC yang akan digelar di Shenzhen, China, pada 18-19 November 2026.
"Dan jika semuanya berjalan seperti yang telah disampaikan, maka ketiganya akan dapat mengadakan pertemuan," kata Ushakov.
Pernyataan tersebut disampaikan Ushakov dari Bishkek, ibu kota Kyrgyzstan. Saat itu, Putin dan Xi menghadiri pertemuan Shanghai Cooperation Organisation (SCO).
Rusia, China dan AS merupakan bagian dari APEC yang beranggotakan 21 negara dan ekonomi.
Baca Juga: Kanal Panama Proyeksikan Pendapatan US$ 5,56 Miliar pada Tahun Fiskal 2027
Kehadiran Trump Belum Dikonfirmasi
Meski Kremlin menyebut ketiga pemimpin diperkirakan menghadiri KTT APEC, pemerintah AS belum mengonfirmasi kehadiran Trump dalam forum tersebut.
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan hingga saat ini belum ada pengumuman mengenai rencana kehadiran Trump di KTT APEC.
"Kami belum memiliki pengumuman mengenai kehadiran Presiden Trump di APEC saat ini," ujar Kelly.
Jika terealisasi, pertemuan trilateral Putin, Xi dan Trump akan menjadi pertemuan penting yang mempertemukan pemimpin dari tiga kekuatan ekonomi dan geopolitik terbesar dunia.
Baca Juga: Obligasi Global Tertekan, Harga Minyak Melonjak Usai Serangan AS ke Iran
Pertemuan tersebut juga berpotensi menjadi perhatian pasar global mengingat hubungan Rusia-AS dan China-AS masih menghadapi sejumlah isu strategis, mulai dari perdagangan hingga keamanan dan geopolitik.














