Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - CHICAGO. Harga komoditas biji-bijian di Amerika Serikat melonjak sejak pecahnya perang dengan Iran, memicu gelombang penjualan jagung dan kedelai oleh para petani yang sebelumnya menyimpan hasil panen tahun lalu karena harga yang rendah.
Sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, para petani di wilayah Midwest memanfaatkan kenaikan harga dengan menjual jagung, kedelai, dan gandum dari gudang penyimpanan mereka kepada produsen etanol serta pedagang besar seperti Archer-Daniels-Midland dan Bunge.
Selain menjual stok lama, para petani juga berlomba menandatangani kontrak untuk menjual lebih awal hasil panen yang bahkan belum ditanam dan baru diperkirakan dipanen tahun ini.
Baca Juga: Pengetatan Pemeriksaan Fitosanitari Ganggu Pengiriman Kedelai Brasil ke China
Reli harga tersebut menjadi kejutan yang menyenangkan bagi para petani. Kenaikan harga memungkinkan banyak dari mereka mengunci keuntungan meskipun relatif tipis, guna menutupi lonjakan biaya pupuk, bahan kimia, dan benih. Namun, para petani menilai kenaikan tersebut belum cukup kuat untuk mengakhiri perlambatan ekonomi di sektor pertanian.
Dave Kestel, seorang petani di Manhattan, Illinois, mengatakan ia telah menjual sekitar 40% jagung dan kedelai hasil panen tahun lalu serta sekitar 10% dari produksi yang diperkirakan akan dipanen pada 2026. Sebelumnya, ia harus menanggung biaya penyimpanan harian untuk hasil panen tersebut sehingga segera menjualnya saat harga melonjak.
“Saya sampai melakukan tarian bahagia ala petani,” kata Kestel.
Harga Biji-bijian Capai Level Tertinggi
Kontrak berjangka kedelai sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2024, yakni di atas US$12 per bushel di Chicago Board of Trade pada Kamis.
Sementara itu, harga jagung berjangka mencapai titik tertinggi sejak Mei 2025 pada pekan ini, sedangkan harga gandum menyentuh level tertinggi sejak Juni 2024.
Pada tahun lalu, harga komoditas pertanian sempat melemah akibat pasokan yang melimpah. Ekspor kedelai juga terpukul oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan China di bawah pemerintahan Donald Trump.
Untuk membantu petani yang terdampak kebijakan perdagangan tersebut, pemerintah AS melalui Departemen Pertanian mulai menyalurkan bantuan sebesar US$12 miliar.
Baca Juga: AS–Sekutu Barat Bentrok dengan Rusia dan China di PBB Soal Program Nuklir Iran
Petani Cepat Ambil Peluang
Para analis menilai bantuan tersebut memang memperkuat neraca keuangan petani dalam jangka pendek, tetapi tidak banyak memperbaiki profitabilitas dasar sektor pertanian.
Karena itu, para petani bergerak cepat menjual hasil panen untuk menekan potensi kerugian, sekaligus memanfaatkan momentum reli harga yang belum tentu berlangsung lama. Harga jagung dan kedelai sempat naik sekitar 6% dibandingkan level sebelum perang dimulai.
“Kami pada dasarnya sedang mengisi seluruh fasilitas elevator biji-bijian di Amerika Utara dan Amerika Selatan saat ini,” kata Chief Operating Officer Bunge, Julio Garros, dalam acara investor pada Selasa.
Lonjakan harga minyak akibat perang turut mendorong kenaikan harga tanaman yang digunakan sebagai bahan baku biofuel. Selain itu, konflik juga mengganggu pengiriman pupuk penting, yang ikut mendorong harga jagung.
Angie Setzer, mitra di perusahaan konsultan Consus Ag Consulting, mengatakan kenaikan harga umumnya cukup untuk membuat petani memperoleh keuntungan, meski tingkat impas berbeda-beda bagi setiap produsen.
“Ketika pasar melonjak besar, itu membuka banyak peluang yang sudah lama mereka tunggu,” kata Setzer.
Risiko dari Panen yang Belum Ditanam
Sebagian petani bahkan berani mengambil risiko dengan menjual kontrak hasil panen yang belum ditanam.
Keaton Lyons, petani yang mengelola sekitar 1.200 acre lahan di Rensselaer, Indiana, telah sepakat menjual sekitar 100.000 bushel jagung yang baru akan ditanam dalam waktu dekat.
Baca Juga: India Tunda Kesepakatan Dagang dengan AS di Tengah Investigasi Tarif Trump
“Dari sisi harga, saya merasa sangat bagus,” ujar Lyons.
“Yang membuat saya gugup adalah kami bahkan belum menanam satu biji pun, tetapi sudah menjual sekitar 65%,” tambahnya.
Menurut Wesley Davis, mitra di Meridian Agribusiness Advisors, banyak petani telah menjual sebagian besar hasil panen kedelai tahun lalu pada akhir 2025. Namun, sebagian besar jagung masih belum memiliki harga tetap sehingga lonjakan harga saat ini sangat membantu operasi pertanian yang lebih bergantung pada jagung.
Data Departemen Pertanian AS menunjukkan bahwa hingga 1 Desember lalu, petani menyimpan 14% lebih banyak jagung di lahan mereka dibandingkan tahun sebelumnya, serta 2% lebih banyak kedelai.
Di Waseca, Minnesota, Richard Guse yang mengelola sekitar 3.500 acre lahan bersama saudara dan anaknya mengatakan ia memperoleh keuntungan kecil setelah menjual sekitar sepertiga panen jagung 2025 kepada produsen etanol Guardian Energy dengan harga US$4,25 per bushel pekan ini.
“Harga naik dengan sangat cepat,” kata Guse. “Namun biasanya harga turun jauh lebih cepat daripada naik.”













