Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memasuki pekan kedua pada Jumat (13/3/2026), menewaskan ribuan orang, mengganggu kehidupan jutaan lainnya, dan mengguncang pasar keuangan global.
Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menyampaikan pernyataan pertamanya melalui televisi pada Kamis (12/3/2026) menegaskan akan menutup Selat Hormuz dan menyerukan negara-negara tetangga untuk menutup pangkalan AS di wilayah mereka, jika tidak ingin menjadi target Iran.
“Saya pastikan bahwa kami tidak akan mengabaikan balas dendam atas darah para syuhada kalian,” kata Khamenei.
Baca Juga: Mata Uang Asia Mayoritas Stabil Pagi Ini: Peso Filipina & Dolar Taiwan Paling Loyo
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar konferensi pers pertamanya sejak serangan udara AS-Israel dimulai pada 28 Februari mengeluarkan ancaman terselubung untuk menyingkirkan Khamenei dan membela aksi militer tersebut.
“Saya tidak akan merinci semua tindakan yang kami lakukan. Kami menciptakan kondisi optimal untuk menggulingkan rezim, meskipun saya tidak bisa memastikan sepenuhnya apakah rakyat Iran akan melakukannya dari dalam,” ujarnya.
Dampak ke Pasar Global
Ketegangan ini mendorong harga minyak naik sekitar 9% ke level US$100 per barel pada Kamis, dan menekan indeks saham AS. S&P 500 mencatat penurunan persentase terbesar dalam tiga hari terakhir, sementara saham Asia juga tertekan pada Jumat.
Untuk menstabilkan pasar energi global, AS mengeluarkan izin sementara selama 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang terdampar di laut.
Baca Juga: Seperlima Remaja Australia Masih Gunakan TikTok dan Snapchat Pasca Larangan Medsos
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kenaikan sementara harga minyak ini akan membawa manfaat jangka panjang bagi ekonomi AS.
Namun, komentar Presiden Donald Trump yang menyebut AS akan mendapat “banyak keuntungan” dari kenaikan harga minyak menuai kritik dari Partai Demokrat, yang menuduh Trump terlalu mementingkan orang kaya dan kurang peduli pada dampak perang terhadap warga biasa.
Kondisi di Lapangan
Di Iran, warga melaporkan peningkatan kehadiran aparat keamanan, menunjukkan kontrol tetap ketat. Meski ada sebagian masyarakat yang merayakan kematian pemimpin senior sebelumnya, belum terlihat adanya aksi protes terorganisir.
Di Irak, Komando Pusat AS sedang melakukan upaya penyelamatan setelah pesawat pengisian bahan bakar militer KC-135 jatuh, meski insiden ini bukan akibat tembakan musuh atau kesalahan pihak sendiri.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Jumat (13/3), Harga Minyak Dekati US$100 karena Perang Iran
Kelompok bersenjata yang didukung Iran, Islamic Resistance in Iraq, mengklaim telah menembak jatuh pesawat tersebut.
Di Teluk, dua kapal tanker terbakar setelah diserang perahu Iran yang membawa bahan peledak, sementara kapal-kapal lain juga menjadi target.
Iran menyatakan strategi mereka kini bertujuan memberi tekanan ekonomi jangka panjang untuk memaksa AS mundur, bahkan menyebut dunia harus bersiap menghadapi harga minyak hingga US$200 per barel.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menilai kemungkinan itu kecil, tetapi tidak sepenuhnya menutup kemungkinan.













