Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia jatuh lebih dari 4% pada Kamis (15/1/2026), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembunuhan terhadap demonstran dalam aksi protes di Iran mulai mereda. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar atas kemungkinan aksi militer terhadap Iran dan gangguan pasokan minyak global.
Harga minyak Brent turun US$2,85 atau 4,3% ke level US$63,67 per barel pada pukul 20.59 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 2,74 atau 4,4% menjadi US$ 59,28 per barel.
Trump menyatakan dirinya mendapat informasi kekerasan dalam penindakan protes di Iran mulai berkurang dan ia tidak melihat adanya rencana saat ini untuk melakukan eksekusi massal. Sikap tersebut menandai pendekatan wait and see, setelah sebelumnya Trump sempat mengeluarkan ancaman intervensi.
Baca Juga: Gugat Media di Inggris, Pangeran Harry Akan Kembali Bersaksi di Pengadilan
Komentar Trump tersebut menurunkan premi risiko geopolitik yang sempat meningkat dalam beberapa hari terakhir, menurut para analis. Sehari sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh US$ 66,82 per barel, level tertinggi sejak September.
“Meski situasinya masih rapuh, premi risiko jangka pendek telah melemah, namun belum sepenuhnya hilang karena risiko gangguan pasokan tetap ada,” kata analis Saxo Bank, Ole Hansen.
Seorang pejabat AS mengatakan pada Rabu (15/1/2026) Amerika Serikat menarik sebagian personel dari pangkalan militernya di Timur Tengah, setelah seorang pejabat senior Iran menyatakan Teheran telah memberi tahu negara-negara tetangganya bahwa Iran akan menyerang pangkalan AS jika Washington melancarkan serangan.
Tekanan tambahan pada harga minyak datang dari data persediaan AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah dan bensin AS naik lebih besar dari perkiraan pekan lalu.
Di sisi lain, Venezuela mulai membalikkan pemangkasan produksi minyak yang dilakukan selama embargo AS, dengan ekspor minyak mentah kembali dilanjutkan, menurut tiga sumber.
Dari sisi permintaan, OPEC menyatakan permintaan minyak pada 2027 diperkirakan tumbuh dengan laju yang serupa dengan tahun ini, serta memproyeksikan keseimbangan pasokan dan permintaan yang relatif ketat pada 2026, berbeda dengan sejumlah proyeksi lain yang memperkirakan kelebihan pasokan.
Sementara itu, data pemerintah China menunjukkan impor minyak mentah China pada Desember melonjak 17% secara tahunan, dengan total impor sepanjang 2025 naik 4,4%. Volume impor harian juga tercatat mencapai rekor tertinggi.
Baca Juga: Platform Media Sosial Telah Tutup 4,7 Juta Akun Pengguna di Bawah Usia 16 Tahun












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
