Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Harga minyak naik untuk sesi keempat berturut-turut, naik lebih dari US$ 1 pada awal perdagangan pada hari Rabu setelah serangan baru di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan.
Rabu (9/9/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2028 naik 1,4% menjadi US$ 99,33 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 menguat 1,4% menjadiUS$ 94,34 per barel.
Baca Juga: Indeks KOSPI Korea Selatan Menguat Seiring Reli Saham Sektor Chip
Harga minyak mentah Brent telah melonjak sejak awal Agustus 2026 karena harapan untuk sebuah resolusi permanen terhadap perang yang telah berlangsung selama enam bulan memudar dan ketika pertempuran kembali berkobar, dengan harga dengan cepat mendekati angka penting US$ 100 per barel.
Perang Timur Tengah meningkat pada hari Selasa ketika Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan ke beberapa kota di Saudi, yang selanjutnya melibatkan sekutu AS dalam konflik tersebut.
Pasukan AS menyerang beberapa kapal tanker minyak Iran dan Iran menargetkan pangkalan AS di Yordania.
“Perkembangan terakhir hanya memperkuat pandangan bahwa kita masih jauh dari memulai kembali perundingan (perdamaian). Sementara itu, pasar kemungkinan akan terus memperhitungkan premi risiko yang cukup besar,” kata analis ING dalam sebuah catatan.
Serangan terbaru ini mengancam akan memperparah gangguan terhadap pasokan minyak Timur Tengah, yang sudah terbatas akibat serangan terhadap infrastruktur energi regional dan jalur pelayaran utama.
Baca Juga: Indeks Nikkei Reli, Antusiasme Terhadap AI Mengesampingkan Kekhawatiran Perang Iran
Meskipun Arab Saudi telah mengalihkan sebagian ekspornya meninggalkan Selat Hormuz, serangan berkelanjutan apa pun terhadap kerajaan tersebut dapat mempersulit upaya untuk menjaga agar minyak mentah tetap mengalir ke pasar global, kata para analis.
"Serangan Iran terhadap fasilitas energi Saudi dan penghancuran lima kapal tanker Iran menimbulkan kekhawatiran mengenai gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak," kata analis OCBC dalam sebuah catatan.














