Harga Minyak Ditutup Melonjak, WTI Kembali ke Atas US$ 80 Per Barel

Kamis, 29 September 2022 | 05:39 WIB Sumber: Reuters
Harga Minyak Ditutup Melonjak, WTI Kembali ke Atas US$ 80 Per Barel

ILUSTRASI. Harga minyak mentah kembali melanjutkan penguatan


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak ditutup menguat untuk hari kedua secara berturut-turut. Rebound dari kerugian baru-baru ini terjadi karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) mereda dan angka persediaan bahan bakar AS menunjukkan penarikan yang lebih besar dari perkiraan serta adanya rebound dalam permintaan.

Rabu (28/9), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2022 ditutup melonjak US$ 3,05 atau 3,5% ke US$ 89,32 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2022 ditutup naik US$ 3,65 atau 4,7% ke $82,15 per barel.

Analis mengatakan harga minyak yang turun lebih dari 22% selama kuartal ketiga, mungkin sudah mencapai titik terendah karena permintaan China menunjukkan tanda-tanda rebound dan penjualan cadangan strategis AS mendekati penutupan.

"Saya pikir kita berada di posisi terbawah, tetapi akan terus sangat fluktuatif, dan terus menjauhkan uang spekulatif yang mudah dari pasar ini," kata Rebecca Babin, Senior Energy Trader di CIBC Private Wealth US.

Baca Juga: Harga Minyak Bervariasi di Pagi Ini, Penguatan Dolar AS Batasi Sentimen Badai Ian

Angka persediaan minyak AS menunjukkan permintaan konsumen rebound, meskipun produk penyulingan yang dipasok tetap 3% lebih rendah selama empat minggu terakhir dibandingkan periode tahun lalu.

Stok minyak mentah AS turun 215.000 barel di pekan lalu, sementara persediaan bensin turun 2,4 juta barel dan persediaan sulingan sebesar 2,9 juta barel, karena aktivitas penyulingan menurun menyusul beberapa pemadaman.

Aktivitas penyulingan menurun, tetapi penyulingan masih berjalan pada 90,6% dari keseluruhan kapasitas di Amerika Serikat, tertinggi untuk sepanjang tahun ini sejak 2014, baik untuk permintaan domestik maupun ekspor.

Dolar AS yang mencapai puncak baru dalam dua dekade terhadap sekeranjang mata uang pada hari Rabu melemah. The greenback yang perkasa membuat harga minyak lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Pada sore hari, indeks dolar AS turun 0,9%.

"Ini semua adalah reli yang didorong oleh dolar AS secara keseluruhan," kata Eli Tesfaye, Senior Market Strategist di RJO Futures. "Semua mata uang yang didominasi bahan mentah naik - minyak mentah tidak hanya bergerak dalam isolasi di sini."

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun, Harga BBM Subsidi Mestinya Diturunkan

Goldman Sachs memangkas perkiraan harga minyak 2023 pada hari Selasa, karena ekspektasi permintaan yang lebih lemah dan dolar AS yang lebih kuat tetapi mengatakan kekecewaan pasokan global hanya memperkuat prospek bullish jangka panjangnya.

Pasar bursa saham global turun dari posisi terendah dua tahun pada hari Rabu, setelah Bank of England mengatakan akan masuk ke pasar obligasi untuk membendung kenaikan yang merusak dalam biaya pinjaman, meredam kekhawatiran investor akan penularan di seluruh sistem keuangan.

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru