Harga Minyak Ditutup Naik 2%, Pengurangan Produksi dari Teluk Meksiko jadi Pendorong

Rabu, 28 September 2022 | 06:09 WIB Sumber: Reuters
Harga Minyak Ditutup Naik 2%, Pengurangan Produksi dari Teluk Meksiko jadi Pendorong

ILUSTRASI. Harga minyak rebound setelah cetak level terendah dalam 2 tahun


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak naik sekitar US$ 2 per barel dari level terendah dalam 9 bulan yang dicatat sehari sebelumnya. Dukungan harga datang oleh pembatasan pasokan di Teluk Meksiko Amerika Serikat (AS), jelang Badai Ian dan pelemahan dolar AS dari level terkuatnya dalam dua dekade.

Selasa (27/9), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2022 ditutup naik US$ 2,21 atau 2,6% ke US$ 86,27 per barel. Pada hari Senin, Brent turun ke level US$ 83,65 per barel, terendah sejak Januari.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2022 juga ditutup menguat US$ 1,79 atau 2% ke US$ 78,50 per barel.

Harga mendapat dukungan dari ekspektasi analis tentang kemungkinan pemotongan pasokan dari OPEC+, yang akan bertemu untuk menetapkan kebijakan pada 5 Oktober.

Di sisi lain, produsen minyak lepas pantai AS mengatakan bahwa mereka mengawasi jalur Badai Ian. Badai kuat itu menutup sekitar 11% dari produksi minyak di Teluk Meksiko AS saat meluncur menuju Florida.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik US$2 dari Level Terendah Sejak Januari

Pemadaman mungkin hanya memberikan penangguhan sementara untuk harga minyak, kata Bob Yawger dari Mizuho di New York.

"Barang akan segera kembali, saya dapat membayangkan," kata Yawger, menambahkan bahwa ada kemungkinan kecil badai akan mengubah jalur dan memaksa lebih banyak penutupan.

Setelah menutup beberapa produksi minyak mentah lepas pantai, BP Plc mengatakan, badai itu tidak menimbulkan ancaman bagi aset Teluk Meksiko dan perusahaan hanya memindahkan pekerja ke platform minyak.

Harga minyak mentah melonjak setelah Rusia menginvasi Ukraina pada Februari, dengan Brent pada Maret mendekati level tertinggi sepanjang masa di posisi US$ 147 per barel. Baru-baru ini, kekhawatiran tentang resesi, suku bunga tinggi dan kekuatan dolar AS telah membebani harga.

"Minyak saat ini berada di bawah pengaruh kekuatan finansial," kata Tamas Varga, Oil Broker di PVM.

Di saat yang sama, dolar AS, yang turun dari level tertinggi 20 tahun, juga membantu mendukung harga minyak. Dolar yang kuat membuat minyak mentah lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Penurunan harga minyak dalam beberapa bulan terakhir telah meningkatkan spekulasi bahwa OPEC+ dapat melakukan intervensi. Menteri perminyakan Irak pada hari Senin mengatakan kelompok itu memantau harga dan tidak menginginkan kenaikan tajam atau keruntuhan.

Baca Juga: Harga Komoditas Rebound Setelah Kemarin Tertekan Penguatan Dolar AS

"Hanya pengurangan produksi oleh OPEC+ yang dapat mematahkan momentum negatif dalam jangka pendek," kata Giovanni Staunovo dan Wayne Gordon dari bank Swiss UBS.

Pasar sedang menunggu laporan inventaris AS terbaru, yang diperkirakan para analis akan menunjukkan peningkatan 300.000 barel dalam stok minyak mentah. Laporan American Petroleum Institute keluar pada hari Selasa pukul 16:30 EDT (2030 GMT).

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru