kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Minyak Ditutup Turun Hampir 3%, Ini Sentimen yang Menyeretnya


Sabtu, 24 Februari 2024 / 06:24 WIB
Harga Minyak Ditutup Turun Hampir 3%, Ini Sentimen yang Menyeretnya
ILUSTRASI. harga minyak mentah kompak melemah


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak ditutup turun hampir 3% pada akhir pekan dan membukukan penurunan mingguan setelah pembuat kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) mengindikasikan penurunan suku bunga dapat ditunda setidaknya dua bulan lagi.

Jumat (23/2), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman April 2024 ditutup turun US$ 2,05 atau 2,5% ke US$ 81,62 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2024 ditutup turun US$ 2,12, atau 2,7% ke US$ 76,49 per barel.

Dengan hasil ini, Brent turun sekitar 2% dan WTI turun lebih dari 3% di pekan ini. Namun, indikasi permintaan bahan bakar yang sehat dan kekhawatiran pasokan dapat menghidupkan kembali harga dalam beberapa hari mendatang.

Sentimen bagi harga minyak datang setelah Federal Reserve diproyeksi harus menunda penurunan suku bunga AS setidaknya beberapa bulan lagi. Hal itu diungkapkan Gubernur The Fed Christopher Waller pada hari Kamis, yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan membatasi permintaan minyak.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 1% di Tengah Tanda-Tanda Pengetatan Pasokan, Rabu (21/2)

The Fed telah mempertahankan suku bunga kebijakannya stabil pada kisaran 5,25% hingga 5,5% sejak Juli lalu. Risalah rapat bulan lalu menunjukkan, sebagian besar gubernur bank sentral khawatir akan tindakan yang terlalu cepat untuk melonggarkan kebijakan.

“Seluruh sektor energi bereaksi, karena jika inflasi mulai kembali maka akan memperlambat permintaan produk energi,” kata Tim Snyder, ekonom di Matador Economics.

“Itu bukanlah sesuatu yang ingin dicerna oleh pasar saat ini, terutama ketika pasar sedang mencoba mencari arah,” tambahnya.

Namun, beberapa analis mengatakan permintaan masih tetap sehat meskipun ada dampak dari tingginya suku bunga, termasuk di Amerika Serikat.

Indikator permintaan JPMorgan menunjukkan, permintaan minyak meningkat sebesar 1,7 juta barel per hari (bpd) dari bulan ke bulan hingga 21 Februari, kata para analis dalam sebuah catatan.

“Ini dibandingkan dengan kenaikan 1,6 juta barel per hari yang diamati pada minggu sebelumnya, kemungkinan besar disebabkan oleh peningkatan permintaan perjalanan di China dan Eropa,” kata para analis.

Sementara itu, perundingan gencatan senjata di Gaza sedang berlangsung di Paris yang tampaknya merupakan upaya paling serius dalam beberapa minggu ini untuk menghentikan konflik di Palestina dan membebaskan sandera Israel dan warga asing.

Baca Juga: Wall Street Disokong Nvidia: S&P 500 dan Dow Jones Cetak Rekor Penutupan Tertinggi

Pembicaraan gencatan senjata dapat mendorong pasar untuk mengantisipasi berkurangnya ketegangan geopolitik, kata Tim Evans, seorang analis pasar minyak independen, dalam sebuah catatan.

Namun, ketegangan di Laut Merah terus berlanjut, dengan serangan yang dilakukan oleh militan Houthi yang didukung Iran di dekat Yaman pada hari Kamis yang memaksa lebih banyak kapal pelayaran mengalihkan jalur perdagangan tersebut.

Perusahaan-perusahaan energi AS minggu ini menambah rig minyak terbanyak sejak November, dan terbesar dalam sebulan sejak Oktober 2022, kata perusahaan jasa energi Baker HughesBKR.O.

Jumlah rig minyak, yang merupakan indikator awal produksi di masa depan, bertambah enam menjadi 503 pada minggu ini, dan bertambah empat pada bulan ini.




TERBARU

[X]
×