Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) yang membatalkan sebagian besar tarif luas pemerintahan Presiden AS Donald Trump menambah ketidakpastian baru bagi bank sentral AS dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Selama setahun terakhir, para pejabat Federal Reserve (The Fed) berupaya mengukur dampak kenaikan tajam tarif impor terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Sejumlah pejabat bahkan baru saja memperoleh keyakinan bahwa lonjakan harga akibat tarif tahun lalu akan segera mereda.
Baca Juga: Tarif Trump Dibatalkan: Kenapa China Ogah Beli Kedelai AS Lagi?
Namun kini, muncul pertanyaan baru: apakah proses penurunan tekanan inflasi itu akan berbalik arah atau tertunda, terutama jika pemerintah AS mencari celah hukum lain untuk kembali memberlakukan tarif serupa.
Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic menilai, situasi ini berpotensi memicu gangguan besar bagi dunia usaha.
“Apakah ada kewajiban untuk mengembalikan dana kepada perusahaan yang sudah membayar tarif?... Jika ya, itu akan sangat mengganggu,” ujar Bostic dalam sebuah acara di Birmingham, Alabama.
Ia juga mempertanyakan apakah pelaku usaha akan kembali ke model bisnis lama terkait sumber pasokan, serta apakah pemerintah akan menggunakan instrumen hukum lain untuk memberlakukan tarif dalam skala yang sama.
Baca Juga: Kebijakan Tarif Trump Dibatalkan: Bagaimana Nasibnya Usai Putusan MA?
Pasar Taruhan Suku Bunga Berayun
Ketidakpastian tersebut tercermin di pasar kontrak berjangka suku bunga. Pada Jumat (20/2/2026), pelaku pasar berayun antara ekspektasi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada Juni atau menundanya hingga Juli.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan, proses hukum terkait kemungkinan pengembalian tarif yang telah dipungut bisa memakan waktu “minggu, bulan, bahkan tahun.”
Di saat yang sama, pemerintahan Trump berencana mengenakan pungutan impor alternatif melalui kewenangan hukum lain untuk menggantikan tarif yang dibatalkan dalam putusan 6-3 Mahkamah Agung.
Bessent menegaskan, “Tidak ada yang perlu berharap bahwa pendapatan tarif akan turun.”
Sebagai respons atas putusan tersebut, Trump langsung mengumumkan tarif baru sebesar 10% terhadap impor dari seluruh negara, di luar tarif yang sudah berlaku.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak Lebih dari 1% Jumat (20/2), Sentimen Ini Menjadi Pemicunya
Proyeksi Ekonomi Bisa Berubah?
Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan, jika tarif baru tersebut pada dasarnya hanya menggantikan tarif lama satu banding satu, maka proyeksi ekonominya tidak akan banyak berubah.
Namun ia mengakui adanya potensi masa transisi yang memicu ketidakpastian tambahan bagi perusahaan.
“Saat perusahaan memikirkan bagaimana beralih dari membayar tarif berdasarkan IEEPA ke jenis tarif lain, itu bisa menciptakan periode ketidakpastian,” ujarnya kepada Fox Business Network.
Baca Juga: Dunia Waspada! Tarif Dagang Baru AS 10% Ancam Harga Barang & Perdagangan Global
Sementara itu, Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, menyatakan pihaknya akan terus mencermati perkembangan tersebut, meski belum memiliki pandangan spesifik.
Dengan dinamika hukum dan kebijakan tarif yang masih cair, The Fed kini menghadapi tantangan tambahan dalam menentukan waktu dan besaran pemangkasan suku bunga, di tengah ketidakpastian inflasi dan arah ekonomi AS.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)