Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia kembali melemah lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (1/7/2026) seiring berlanjutnya pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk mencapai kesepakatan damai permanen. Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti rilis data persediaan minyak mentah AS yang diperkirakan kembali menunjukkan penurunan stok.
Kontrak berjangka minyak Brent turun US$ 1,14 atau sekitar 1,6% menjadi US$ 71,81 per barel pada pukul 08.59 GMT (15:59 WIB). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi US$ 1,11 atau 1,6% ke level US$ 68,39 per barel.
Analis PVM Associates, Tamas Varga, mengatakan bahwa proses negosiasi antara Washington dan Teheran yang masih berlangsung telah menciptakan ketidakpastian di pasar energi.
"Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang berjalan tersendat meningkatkan kekhawatiran akan munculnya kembali gangguan pasokan. Namun di sisi lain, para investor yakin bahwa berbagai hambatan dalam negosiasi tersebut pada akhirnya akan dapat diselesaikan," ujar Varga.
"Secara keseluruhan, kecenderungan harga masih mengarah ke penurunan. Sentimen pasar baru akan berubah apabila terdapat data konkret berupa penurunan signifikan stok minyak atau kembali ditutupnya Selat Hormuz," tambahnya.
Baca Juga: AS-Iran Memulai Pembicaraan Teknis untuk Mengamankan Kesepakatan Perdamaian
Negosiasi Iran-AS Berlangsung di Doha
Sumber Reuters yang mengetahui langsung jalannya pembicaraan menyebutkan bahwa perundingan teknis tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran tengah berlangsung di Doha, Qatar. Dalam proses tersebut, Qatar dan Pakistan bertindak sebagai mediator.
Pada Selasa (30/6/2026), menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, bersama utusan khusus Steve Witkoff tiba di Doha untuk mengikuti perundingan yang oleh Gedung Putih disebut sebagai pembicaraan tingkat tinggi.
Namun, pemerintah Iran maupun Qatar menegaskan bahwa delegasi AS akan bertemu dengan para mediator, bukan melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Iran.
Harga Minyak Catat Penurunan Kuartalan Terbesar
Tekanan terhadap harga minyak semakin terlihat setelah Brent mencatat penurunan sekitar US$ 45 per barel sepanjang kuartal II 2026. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak krisis keuangan global pada 2008.
Sementara itu, minyak mentah WTI turun sekitar US$ 31 per barel selama periode yang sama. Ini merupakan pelemahan kuartalan terbesar sejak tahun 2020 ketika pandemi Covid-19 menghantam permintaan energi global.
Penurunan tersebut terjadi setelah ketegangan di Timur Tengah mulai mereda. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam pada Maret akibat pecahnya konflik bersenjata di kawasan tersebut.
Baca Juga: Kendati Indeks PMI Menurun, Tapi Manufaktur Eropa Tetap Bertahan di Fase Ekspansi
Prospek Harga Minyak 2026 Direvisi Turun
Survei Reuters menunjukkan bahwa para analis untuk pertama kalinya memangkas proyeksi harga minyak tahun 2026 sejak perang Iran dimulai.
Revisi tersebut didorong oleh kembali dibukanya Selat Hormuz sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dalam jangka panjang.
Lalu lintas kapal tanker yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut juga mulai pulih. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan menyatakan bahwa arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah kembali ke tingkat sebelum perang.
Pasar Menunggu Data Persediaan Minyak AS
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar kini menanti data resmi persediaan minyak mentah AS dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu siang waktu setempat.
Sebelumnya, data American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS kembali mengalami penurunan pada pekan lalu.
Apabila data resmi EIA mengonfirmasi penurunan tersebut, kondisi ini berpotensi memberikan dukungan terhadap harga minyak. Sebaliknya, apabila hasilnya di bawah ekspektasi pasar, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan masih akan berlanjut di tengah membaiknya prospek pasokan global.














