Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak mentah turun pada perdagangan Jumat (18/9/2026), setelah China meminta Iran membatasi serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. Langkah tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman mendatang ditutup turun 95 sen atau 0,93% menjadi US$ 104,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$1,61 atau 1,58% menjadi US$ 100,30 per barel.
China mengambil langkah tersebut setelah mendapat permintaan dari Arab Saudi. Serangan Houthi yang didukung Iran terhadap infrastruktur minyak Saudi sebelumnya mengancam jalur ekspor minyak kedua di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Trump Resmi Kenakan Tarif 100% ke Pembeli Minyak Rusia, Ini Negara yang Terancam
Penurunan harga pada Jumat terjadi setelah harga minyak menguat cukup konsisten dalam beberapa pekan terakhir. Eskalasi serangan antara AS dan Iran, ditambah meningkatnya aktivitas militer kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran, telah meningkatkan risiko gangguan pasokan.
Situasi tersebut diperparah oleh masalah kapasitas pengolahan minyak di berbagai negara yang mendorong harga sejumlah produk bahan bakar, terutama diesel, di pasar utama.
Tekanan terhadap pasar energi terlihat jelas di Amerika Serikat. Harga eceran diesel di AS kini mencapai US$ 6,45 per galon, level tertinggi sepanjang sejarah, berdasarkan data AAA.
Sementara itu, harga rata-rata bensin eceran berada di US$ 4,47 per galon. Level tersebut cukup tinggi mengingat harga bensin biasanya mulai menurun pada periode ini dalam setahun.
Masalah kapasitas kilang turut memperburuk kondisi tersebut. Penyedia data kilang IIR Energy memperkirakan kapasitas pengolahan minyak AS yang beroperasi akan turun sekitar 371.000 barel per hari (bph) pada pekan depan.
"Ini bukan masalah pasokan saat ini; ini adalah masalah kilang," ujar Phil Flynn, analis senior Price Futures Group, dikutip Reuters.
Dengan demikian, meskipun harga minyak mentah terkoreksi, pasar produk olahan masih menghadapi tekanan karena keterbatasan kapasitas kilang.
Intervensi China terhadap Iran memang membantu meredakan tekanan harga, tetapi analis menilai prospek pasar minyak untuk beberapa bulan ke depan masih penuh ketidakpastian.
Baca Juga: Donald Trump Teken UU Sanksi untuk Rusia
JPMorgan pada Kamis (17/9) bahkan mengatakan untuk pertama kalinya sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada Februari, pihaknya tidak memiliki pandangan dasar (baseline view) yang jelas mengenai pasar minyak.
Salah satu sumber ketidakpastian terbesar adalah Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak global yang hingga kini masih sebagian besar terputus.
Data awal pengiriman menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis. Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 16 kapal.
Gangguan di Hormuz menjadi perhatian karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dan energi dari kawasan Teluk ke pasar global.
Harga minyak sempat mendekati level tertinggi dalam hampir empat bulan pada awal pekan. Kenaikan tersebut terjadi setelah sumber-sumber mengatakan pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Saudi di Laut Merah, Yanbu, dihentikan.
Arab Saudi juga membatalkan sejumlah pengiriman minyak ke Eropa setelah jalur pipa East-West mengalami kerusakan akibat serangan pada pekan lalu.
Bloomberg News melaporkan pada Jumat bahwa Saudi Aramco telah memberi tahu setidaknya dua pelanggan kilang di Eropa bahwa mereka tidak akan menerima minyak mentah pada bulan depan. Laporan tersebut mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Sementara itu, Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran kembali saling menyerang di sepanjang perbatasan pada Kamis. Warga Yaman bahkan dilaporkan menggunakan kapal untuk melarikan diri dari pertempuran di Laut Merah.
Perang yang semakin meluas di Timur Tengah meningkatkan risiko baru terhadap pasokan energi global.
Baca Juga: India Terjepit Pilihan Sulit soal Impor Minyak Rusia di Tengah Ancaman Tarif AS
Kerusakan pada infrastruktur minyak Saudi juga ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Berdasarkan citra satelit dan keterangan tiga sumber industri, tiga stasiun pompa yang melayani East-West Pipeline rusak dalam serangan pekan lalu, satu lebih banyak dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki infrastruktur tersebut masih belum jelas.
Arab Saudi menargetkan pemulihan sekitar setengah kapasitas East-West Pipeline dalam beberapa hari. Namun, sumber-sumber yang diwawancarai Reuters memberikan perkiraan berbeda mengenai waktu yang dibutuhkan hingga pipa tersebut kembali beroperasi normal dan aliran minyak pulih sepenuhnya.
"Pertanyaan utamanya adalah apakah aliran fisik dapat kembali normal dan berapa lama waktunya. Jika kita melihat perbaikan yang berkelanjutan dalam lalu lintas di Hormuz, premi geopolitik dapat kembali berkurang," ujar Priyanka Sachdeva, Head of Market Insights Phillip Nova.
Ketidakpastian geopolitik juga masih tinggi karena AS dan Iran belum kembali melakukan perundingan damai sejak kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni runtuh.
Perang tersebut akan menjadi salah satu topik pembahasan dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan depan. Departemen Luar Negeri AS mengatakan delegasi Iran akan dapat menghadiri pertemuan tersebut.
Kombinasi gangguan Selat Hormuz, kerusakan infrastruktur minyak Saudi, keterbatasan kapasitas kilang dan belum jelasnya arah konflik AS-Iran membuat pasar minyak masih menghadapi risiko volatilitas tinggi.














