Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak ambles 4% pada hari ini karena Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada akhir pekan bahwa Iran serius berbicara dengan Washington, menandakan de-eskalasi dengan anggota OPEC setelah risiko serangan militer mendorong harga ke level tertinggi beberapa bulan.
Senin (2/2/2026) pukul 10.30 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman April 2026 ambles US$ 2,81 atau 4,1% menjadi US$ 66,51 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Maret 2026 anjlok US$ 2,70 atau 4,1% ke US$ 62,51 per barel.
Kedua kontrak tersebut turun tajam dari sesi sebelumnya, ketika Brent menyentuh level tertinggi enam bulan dan WTI berada di dekat level tertingginya sejak akhir September karena meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: KOSPI Anjlok Lebih 2% Hari Ini, Investor Waspadai Efek Pilihan Ketua The Fed Trump
Trump telah berulang kali mengancam Iran dengan intervensi jika Iran tidak menyetujui kesepakatan nuklir atau terus membunuh para demonstran. Ancaman yang terus-menerus ini telah menopang harga minyak sepanjang Januari, kata Priyanka Sachdeva, seorang analis di Phillip Nova.
"Penurunan harga baru-baru ini juga diperkuat oleh penguatan kembali dolar AS, yang biasanya membuat minyak yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli non-AS, sehingga semakin menekan harga," kata Sachdeva.
Pada hari Sabtu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Iran "serius dalam bernegosiasi," beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Teheran, Ali Larijani, mengatakan bahwa pengaturan untuk negosiasi sedang berlangsung.
Komentar Trump, bersama dengan laporan bahwa angkatan laut Garda Revolusi Iran tidak berencana untuk melakukan latihan tembak langsung di Selat Hormuz, adalah tanda-tanda de-eskalasi, kata analis pasar IG, Tony Sycamore.
"Pasar minyak mentah menafsirkan ini sebagai langkah mundur yang menggembirakan dari konfrontasi, mengurangi premi risiko geopolitik yang tertanam dalam harga selama reli minggu lalu dan memicu aksi ambil untung," katanya.
Baca Juga: Indeks Nikkei Menguat di Pagi Ini (2/2), Ditopang Pelemahan Yen & Prospek Pemilu
OPEC+ sepakat untuk mempertahankan produksi minyaknya tidak berubah untuk bulan Maret pada pertemuan hari Minggu. Pada bulan November, mereka membekukan rencana peningkatan lebih lanjut untuk Januari hingga Maret 2026 karena konsumsi yang lebih lemah secara musiman.
"Risiko geopolitik menutupi pasar minyak yang pada dasarnya bearish," kata Capital Economics dalam catatan tanggal 30 Januari.
"Contoh historis perang 12 hari tahun lalu (antara Israel dan Iran), dan pasar minyak yang pasokannya melimpah, akan tetap menekan harga minyak mentah Brent pada akhir tahun 2026."












